Tampilkan postingan dengan label Truk Militer. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 Oktober 2014

TMK-2 Pengeruk



Traktor TMK-2 dapat membuat parit sepanjang 700 meter dengan kedalaman 1.5 meter dalam waktu 1 jam. TMK-2 juga dapat digunakan untuk mengubah relief tanah seperti menimbun parit atau menggali kolam dengan bantuan buldoser tambahan. Selain itu, TMK-2 bisa pula digunakan untuk pemeliharaaan dan membersihkan jalan dari salju bila dilengkapi alat tambahan.
Menurut para ahli, TMK-2 sangat mudah dikendalikan dan mempunyai kemampuan manuver yang tinggi. Hal tersebut membuat kendaraan ini tak tersaingi dalam pembuatan parit jalur pipa, pekerjaan saluran pembuangan air ataupun berbagai jalur lain.


Read more

Minggu, 05 Oktober 2014

Tatra T815-7: Truk Angkut Berat Multi Peran Korps Marinir TNI AL



foto: kaskus
foto: kaskus
Berangkat dari juara enam kali dalam reli Paris – Dakar membawa angin segar dalam promosi truk ini. Dan inilah Tatra T815, truk jawara off road buatan Ceko yang namanya begitu kondang setelah merajai segmen truk di reli paling bergengsi di dunia pada periode 1986 – 2006. Meski yang bertarung di Paris – Dakar adalah Tatra T815 versi 4×4, tapi kemudian versi lain yang berpenggerak 6×6, 8×8, 10×8, 12×12 dan 12×8 ikut laris manis dipasaran, baik memenuhi kebutuhan sipil dan militer.
Tanpa banyak publikasi, nyatanya truk Tatra T815 sudah beberapa tahun beroperasi di Indonesia. Salah satunya dari varian militer yang digunakan oleh Korps Marinir TNI AL, yakni Tatra T815-7 MOR89. Truk jawara off road 8×8 ini memang tampak sangar bila dilihat dari desainnya. Malah terkesan futuristik bila dibandingkan dengan truk milik TNI kebanyakan.
Bila dirunut dari kedatangannya, Tatra T815-7 MOR89 hadir ke Tanah Air bersamaan dengan datangnya MLRS (multiple launcher rocket system) RM-70 Grad untuk Korps Marinir, RM-70 sendiri berbais truk Tatra T813 6×6 yang mampu melontarkan roket kaliber 122 mm sebanyak 40 unit secara simultan. Nah, turut hadir bersamanya yakni Tatra T815 yang berperan sebagai truk pendukung lapangan, dalam hal ini berperan sebagai pengangkut amunisi.
Tatra T815-7 sebagai tank transporter BMP-3F, tampak saat sedang keluar dari Ksatriaan Marinir Cilandak, Jakarta Selatan
Tatra T815-7 sebagai tank transporter BMP-3F, tampak saat sedang keluar dari Ksatriaan Marinir Cilandak, Jakarta Selatan
foto: kaskus
foto: kaskus
Kemudian seiring waktu berjalan, pada November 2010 Korps Marinir TNI AL mulai kedatangan armada tank amfibi baru jenis IFV (Infantry fighting vehicle ) BMP-3F dari Rusia. Dibanding tank dan panser amfibi Korps Marinir sebelumnya, BMP-3F punya bobot yang lebih berat, yakni 18,7 ton. Dan kemudian Korps Marinir lebih tertarik mengaryakan Tatra T815-7 sebagai tank transporter untuk menggotong BMP-3F dari pangkalan ke daerah operasi. Metode loading dan uploading tank ke deck truk mirip dengan yang digunakan pada tank transporter Bedford MT milik kavaleri TNI AD. Walau digunakan untuk mengangkut tank, Tatra T815-7 tak lantas menjadi arsenal batalyon tank amfibi Marinir, melainkan masih menjadi inventaris resimen artileri.
Bicara soal spesifikasi, Tatra T815-7MOR89 merupakan truk militer berstandar NATO yang dirancang untuk beroperasi di medan berat dengan lingkungan yang ekstrim. Bobot maksimum yang bisa dibawa truk ini memang mumpuni, total 24,3 ton bisa diangkut. Selain cocok membawa bekal amunisi, Tatra punya kemampuan taktis dalam menggotong sista artileri dan tank. Untuk dukungan logistik, bahkan truk ini bisa membawa kontainer dan struktur berat lainnya.
tatra_t815_7mor89_l7
tatra_t815_7mor89_l8
Tatra T815-7 menggunakan all-wheel drive dan chassis dengan suspensi independen backbone tube frame dan as roda yang dapat berayun setengah. Setiap roda bergerak naik dan turun secara independen, memungkinkan mobilitas lintas medan yang luar biasa dan kecepatan yang lebih tinggi di jalur off road. Tatra T815-7MOR89 menggunakan dapur pacu mesin diesel turbocharged Cummins ISMe 420 30 turbocharged. Mesin ini memenuhi persyaratan emisi EURO III.
Bukti otentik bahwa ini adalah truk off road sejati adalah adopsi teknologi suspense pneumatic dengan ground clearance variabel, yang dapat ditambah atau dikurangi sementara saat mengemudi. Truk ini juga dilengkapi dengan central tire inflation system (CTIS), yang memberikan kendali atas tekanan udara di setiap ban untuk meningkatkan kinerja pada permukaan yang berbeda. Misalnya, menurunkan tekanan udara dalam ban menciptakan area yang lebih besar dari kontak antara ban dan tanah dan membuat mengemudi di tanah lembut jauh lebih mudah. Hal ini juga menyebabkan lebih sedikit kerusakan permukaan. Penasaran seperti apa kemampuan off road Tatra T815-7, mari simak video-nya dibawah ini.
tatra_t815_7mor89_l6
Dengan memberikan kontrol langsung pengemudi atas tekanan udara di setiap ban, manuver menjadi sangat meningkat. Fungsi lain dari CTIS adalah untuk mempertahankan tekanan di ban jika ada kebocoran lambat atau ban tertusuk. CTIS secara luas digunakan dalam banyak operasi transportasi di jalan off. Di banyak negara, terutama Australia, Selandia Baru dan Afrika Selatan, CTIS secara luas digunakan dalam penebangan, pertambangan, dan pemeliharaan saluran listrik.
Masuk kategori sebagai kendaraan taktis, truk dengan dua awak kabin ini dalam situasi tertentu dapat dilengkapi beberapa lapis pelindung baja untuk menahan proyektil kaliber 7,62 mm. Secara teori truk tempur ini dapat beroperasi di iklim -32 sampai 49 derajat celcius. Mobilitasnya kian tinggi, pasalnya truk ini dapat diangkut oleh pesawat angkut sekelas C-130 Hercules. Dilihat dari spesifikasinya, memang tak keliru Korps Marinir mengadopsi truk yang bisa melewati palung selebar 2 meter ini. Untuk menunjang misi Marinir yang kerap berbasah-basah, Tatra masih bisa melaju di air sedalam 1,2 meter. (Bayu Pamungkas)
Spesifikasi Tatra T815-7 MOR89
Konfigurasi : 8×8
Berat truk : 13,7 ton
Beban maksimum : 24,3 ton
Panjang : 9,12 meter
Lebar : 2,5 meter
Mesin : Cummins Isme 420 30 diesel
Tenaga mesin : 410 hp
Kecepatan max : 105 km / jam
Jarak Tempuh : 900 km
kemiringan maksimum : 50%
Read more

RM 70 Grad 120mm: Self Propelled MLRS Berdaya Hancur Tinggi


BHtJRmICQAAXu5z
Suatu hari ada seorang rekan yang bertanya, “sebenarnya apa senjata milik TNI yang punya daya hancur paling besar?” Sebuah pertanyaan yang jamak digunjingkan masyarakat, tapi harus diakui untuk jawabannya bisa beragam dan multi tafsir. Tapi bila predikat target diukur dari luasnya area yang berhasil dihancurkan, maka jawabannya mengerucut pada sista artileri. Dan lebih spesifik lagi mengarah pada sosok self propelled MLRS (multiple Launch Rocket System) yang mampu menggasak banyak sasaran dalam waktu singkat.
Merujuk ke sista self propelled, lagi-lagi Indonesia termasuk militer di Asia Tenggara yang punya sejarah panjang dalam pemakaiannya. Di lingkungan Armed TNI AD misalnya, self propelled MLRS hadir dalam tipe M-51 kaliber 130mm dan di Korps Marinir TNI AL ada tipe BM-14/17 kaliber 140mm, kedua peluncur roket multi laras dari generasi tahun 60-an ini telah kami bahas di artikel terdahulu. Kemudian waktu berjalan dengan membawa modernisasi alutsista, tapi sayangnya update self propelled nyaris stag di masa orde baru. Dan baru kemudian ada angin segar pada tahun 2004, dimana Korps Marinir kedatangan RM 70 Grad, self propelled MLRS kaliber 122mm dengan 40 peluncur roket pada setiap kendaraan.
Dibanding M-51 dan BM-14/17, jelas RM 70 selain lebih modern juga jauh lebih garang. Dengan basis truk Tatra 813 Kolos berpenggerak 8×8, tongkrongan sista asal Cekoslovakia ini memang cukup garang. Inilah self propelled pertama di lingkungan TNI yang berpenggerak 8×8, sista self propelled TNI AD yang paling baru, Astros II MK6 asal Brazil pun hanya berpenggerak 6×6. Tapi kembali lagi, selain platform kendaraan pengusung akan menentukan sisi mobilitas, lebih utama lagi adalah elemen roket dan peluncurnya yang menjadi komponen inti.
RM70 Korps Marinir dalam Latgab TNI
RM70 Korps Marinir dalam Latgab TNI
2327Dirancang oleh konsorsium DMD group, RM70 Grad kaliber 122mm punya 40 tabung peluncur. Bobot tiap peluncur tipe 9P-152 sekitar 23 kg dengan panjang sekitar 3 meteran. Lebar tiap jajar yang berisi 10 peluncur adalah 1,45 meter. Sementara tinggi total empat jajar peluncur adalah 0,576 meter. Dengan menyertakan sistem perangkai, bobot total rangkaian peluncur RM70 dalam kondisi kosong adalah 2,31 ton.
Selain punya mobilitas tinggi, peluncur roket tadi dapat diputar hingga membentuk sudut 70 derajat (kanan) dan 102 derajat (kiri) terhadap garis sumbu karoseri truk. Dalam operasionalnya, tabung peluncur dioperasikan dengan sistem kendali penembakan Kapustnik B dan perangkat picu tembakan 9V-170. Kedua sistem tersebut berada di dalam kabin pengemudi. Tapi sistem peluncur dapat pula dioperasikan dari jarak jauh dengan dukungan remote control yang terhubung dengan kendaran pengangkut senjata lewat kabel pemicu tembakan sepanjang 64 meter.Untuk itu tenaga listriknya dipasok dari dua unit akumulator (aki) bertengangan 24 volt.
Persiapan peluncuran roket
Persiapan peluncuran roket
Loading roket ke tabung peluncur
Loading roket ke tabung peluncur
Karena efek semburan roket yang cukup besar, saat penembakan tak seorang awak pun diizinkan berada dalam kawasan seluas 150×60 meter di dekat kendaraan. Efek dahsyatnya semburan roket memang luar biasa, bebatuan di kawasan seluas 16×25 meter bisa berhambur keras ke segala arah.
Waktu untuk melakukan satu kali rangkaian penembakan (salvo) sekitar 18 sampai 22 detik, dengan tempo jeda antar roket 0,5 detik.Saat dipakai untuk menghajar target dengan jarak maksimum 20,75 km, butuh waktu 77 detik untuk menghabiskan 40 roket tanpa henti. Tiap roket RM70 dapat mengubah status operasionalnya dari kondisi lintas di jalan raya ke posisi siap tembak dalam tempo 2,5 menit. Sementara proses kebalikannya sedikit lebih lama, yakni 3 menit.
Dalam sebuah defile
Dalam sebuah defile
Berada dalam platform truk Tatra 813, menjadikan RM70 dapat digelar di medan yang sulit sekalipun
Berada dalam platform truk Tatra 813, menjadikan RM70 dapat digelar di medan yang sulit sekalipun
Tampil dibanyak laga, RM70 ini bernasib sial dalam pertempuran di Libya
Tampil dibanyak laga, RM70 ini bernasib sial dalam pertempuran di Libya
Roket
Panjang roket RM70 hampir sama dengan panjang tabung peluncur. Agar gerakan stabil, setiap roket punya empat sirip ekor. Paduan sirip dan gerak putar pelan membuat tingkat akurasi pada target cukup tinggi. Ada 3 jenis roket amunisi RM70, masih dalam koridor kaliber 122mm, ada yang berhulu ledak HE (high explosive)-fragmentation, ada roket Agat berhulu ledak kargo dengan memuat bom mini, kemudian ada roket Krizna, yakni berhulu ledak kargo yang isinya ranjau anti tank.
Inilah sosok roket RM70
Inilah sosok roket RM70
Setiap roket punya bobot 66 kg. Komponennya terdiri dari hulu ledak seberat 18,3 kg, lalu ada motor roket dengan double base solid propellant seberat 20,5 kg. Sisanya adalah cangkang roket. Dimensi panjang roket keseluruhan adalah 2,88 meter dan lebar rantang sirip 0,226 meter. Dengan kecepatan jelajah 2.516 meter per jam, maka jarak jangkau roket bisa mencapai 20,75 km. Saat terdetonasi, hulu ledak bisa menghamburkan 3.150 serpihan kecil baja yang terserak hingga radius 28 meter. Mau tahu seberapa besar area kehancuran dari RM70? Jika diopersikan secara tepat, dipastikan area seluas 3 hektar akan luluh lantak akibat ulah roket multi laras ini.
Sedemikian mematikannya RM70, sista ini tak pelak selalu diandalkan dalam setiap ajang latihan tempur, termasuk dalam tingkat latihan gabungan TNI yang diadakan secara rutin. Dalam sebuah operasi militer untuk merebut daerah yang dikuasi lawan, tembakan pertama memang dilancarkan oleh tank-tank amfibi yang baru saja mendarat di pantai. Lalu berikutnya resimen artileri yang akan ambil bagian. Selain mengandalkan meriam Howitzer LG-1 MK II kaliber 105mm, sudah barang tentu unsur deteren juga ditampilkan, tak lain RM70 Grad. Menyadari bahwa truk platform pengusung RM70 tidak punya kemampuan amfibi, dalam gelar operasinya RM70 dibawa dari LPD (landing platform dock) ke pantai dengan menumpang LCU (landing craft utility).
Seperti halnya BM-14, RM 70 Grad juga menjadi arsenal persenjataan pada Batalyon Roket Pasukan Marinir (Pasmar), yakni Pasmar 1 di Surabaya dan Pasmar 2 di Jakarta. Bila satu baterai (kompi) BM-14 terdiri dari 6 unit peluncur, maka satu baterai RM70 terdiri dari 4 empat peluncur.
RM70 di dalam LCD
RM70 di dalam LCD
Meluncur dari LPD (landing platform dock) ke pantai melalui LCU
Meluncur dari LPD (landing platform dock) ke pantai melalui LCU
Momen Embarkasi RM70 ke dalam LPD (landing platform dock)
Bila dilihat dari efek daya hancur yang diatas howitzer, serta kemampuan jarak tembak yang lumayan jauh, maka wajar jika kemudian self propelled MLRS menjadi elemen strategis dalam memberikan posisi efek deteren di kawasan regional. Ambil contoh Malaysia yang menyiapkan Astros-nya untuk ‘menekan’ Singapura dengan menempatkannya di area perbatasan. Meski sedikit terlambat dibanding Malaysia, adalah tepat adopsi TNI AD dalam memborong Astros II yang punya kemampuan tembak roket multi kaliber. Tapi sayangnya hingga tulisan ini dibuat, Astros II belum juga secara resmi diserahterimakan ke Armed TNI AD. Sementara menunggu Astros datang, RM70 Korps Marinir TNI AL menjadi self propelled satu-satunya milik Indonesia yang bisa diandalkan.
Hanya Punya 9 Unit RM70 Grad
Merujuk informasi dari Harian Kompas (22/4/2010), disebutkan hingga saat ini, Korps Marinir hanya memiliki 9 pucuk roket multilaras RM70 Grad. Ironis memang, semestinya TNI memiliki senjata sejenis ini lebih banyak lagi untuk menjaga pulau-pulau terluar yang rentan terhadap ancaman dan gangguan pihak asing.
Read more

Selasa, 09 September 2014

Medium Girder Bridge: Jembatan Taktis Andalan Zeni Tempur TNI AD

Dalam gelaran operasi militer, laju gerak ranpur dan rantis kerap membutuhkan dukungan dari satuan zeni. Semisal jembatan di suatu wilayah telah rusak atau hancur oleh gempuran lawan, atau bisa juga memang ada medan berat yang merintang, seperti sungai dan ceruk yang dalam, maka solusinya adalah keberadaan jembatan darurat atau kerap disebut jembatan taktis militer.
IMAG1469
Boleh jadi, satuan kavaleri dapat mengatasi rintangan dengan hadirnya tank jembatan yang melekat secara mandiri di tingkat batalyon. Tanpa harus mendapat dukungan dari satuan zeni, satuan tank dan panser dapat melintasi medan cerukan yang dalam dengan wahana berjenis AVLB (armored vehicle launched bridge), dalam bahasa lain sering disebut tank bridgelayer, atau tank penggelar jembatan. Sejak generasi tank ringan AMX-13, TNI AD sudah mengenal yang namanya tank jembatan, sebut saja AMX-13 AVLB, Stormer AVLB, dan yang akan datang Leopard 2A4 AVLB. Meski dapat digelar cepat dan praktis, tapi jembatan yang dapat digelar punya keterbatasan, terutama pada panjang bentang jembatan. Ambil contoh, dalam tempo 5 menit, Stormer AVLB bisa menggelar jembatan sepanjang 15 meter. Sementara Leopard 2A4 AVLB bentang jembatannya mencapai 22 meter. Persoalannya, bagaimana bila yang dibutuhkan jembatan dengan panjang lebih dari kemampuan AVLB?
Mau tidak mau agar operasi dapat mencapai target diperlukan aksi dari satuan zeni. Untuk urusan yang satu ini, korps zeni mengandalkan dua tipe jembatan darurat, yaitu jembatan ponton (pontoon bridge) dan jembatan Bailey (Bailey bridge). Jembatan ponton merupakan penggabungan dari wahana apung yang dideretkan membentuk jalur yang bisa dilewati manusia maupun kendaraan dengan bobot maksimum tertentu. Wahana tersebut bisa berupa perahu, tongkang atau drum/silider yang kedap air. Di kedua ujung sistem pontoon, wahana apung terakhir ditambatkan dengan penambat sehingga keseluruhan badan jembatan tidak bergeser akibat arus sungai.
MGB Single Storey milik Yon Zipur 9 dalam Pameran Alutsista TNI AD 2013.
MGB Single Storey milik Yon Zipur 9 dalam Pameran Alutsista TNI AD 2013.
MGB juga berperan penting dalam operasi militer NATO di Afghanistan.
MGB juga berperan penting dalam operasi militer NATO di Afghanistan.
Satunya lagi adalah jembatan Bailey, tidak lain adalah jembatan darurat tipe rangka (tuss bridge) seperti banyak dijumpai pada umumnya. Bedanya jembatan Bailey mampu diangkut ke lokasi yang membutuhkan serta bisa digelar dengan cepat, bahkan lebih cepat ketimbang jembatan ponton. Namum minusnya, lebar jembatan Bailey cenderung terbatas, biasanya hanya memuat satu jalur untuk kendaraan.
Medium Girder Bridge (MGB)
Dalam pengembangan teknologi jembatan darurat, pada tahun 1971 Inggris memperkenalkan yang namanya Medium Girder Bridge (MGB). MGB merupakan jembatan taktis militer sedang yang berfungsi untuk menyeberangkan material maupun dukungan logistik yang pemasangannya sangat praktis dan mempunyai daya dukung yang besar dan mampu menahan beban yang melintas diatasnya dengan kapasitas 60 Ton. Selain daya sanggah yang besar, MGB digadang mudah dalam perawatan serta konstruksinya mudah dibongkar pasang.
Fleksibilitas dan daya tahan yang kuat menjadi keunggulan MGB.
Fleksibilitas dan daya tahan yang kuat menjadi keunggulan MGB.
Prajurit AD Inggris menjadi mentor penggunaan MGB di Dunia.
Prajurit AD Inggris menjadi mentor penggunaan MGB di Dunia.
Gelar MGB hanya membutuhkan sedikit keterlibatan prajurit.
Gelar MGB hanya membutuhkan sedikit keterlibatan prajurit.
Karena reputasinya, jembatan MGB sudah banyak dipakai oleh angkatan bersenjata di seluruh dunia seperti Inggris, Amerika Serikat dan sekutu-sekutu NATO lainnya. Total 38 negara telah menggunakan MGB, termasuk Indonesia yang mengoperasikan MGB sebagai elemen kekuatan Yon Zipur (Zeni Tempur) 9 Para/Kostrad. Yon Zipur 9 yang bermarkas di Ujung Berung, Jawa Barat ini pernah menampilkan MGB dalam Pameran Alutsista TNI AD 2013 di Lapangan Monas. Saat itu MGB Single Storey ‘dinaiki’ satu unit tank ringan AMX-13.
Unit MGB mempunyai berat yang lebih ringan ketimbang jembatan Bailey dan pastinya lebih mudah diangkut dan bisa beradaptasi. Hebatnya lagi, MGB dapat dipasang oleh satu peleton satuan Zeni. MGB tidak memerlukan pembatas yang permanen sehingga dapat mengakomodasi kendaraan yang mengangkut barang yang lebih lebar dari pada kendaraan itu sendiri, dan apabila dibutuhkan dapat dipasang jembatan lagi berdampingan disamping jembatan yang sudah ada.
MGB punya batang-batang penyusun yang dibuat secara prefabrikasi, dalam arti telah dibuat sebelumnya. Setiap batang dibuat standar yaitu hanya beberapa tipe ukuran saja. Jembatan ini memanfaatkan pembagian/distribusi gaya akibat beban yang dipikul melalui batang-batang baja yang disusun beraturan yang hasil akhirnya secara keseluruhan membentuk semacam kerangka (frame) saling tersambung dengan baut. MGB memiliki kerapatan antar batang penyusun rangka yang cukup rapat. Lebar jembatannya pun tidak bisa terlalu lebar, umumnya cukup untuk sejalur kendaraan berat atau tank. Berkat sifatnya yang modular dan perfebrikasi, MGB mampu disusun cepat. Bagian-bagian jembatan mampu digotong beberapa prajurit saja. Kalaupun diperlukan derek untuk mengangkat bagian yang cukup berat, crane lapangan seperti tersedia pada beberapa tipe CEV (combat engineer vehicle) sudah cukup memadai. Penasaran dengan seberapa cepat MGB dapat dipasang, simak demo pemasangan MGB yang dilakukan prajurit zeni AD Inggris pada video dibawah ini, pengerjaan MGB Single Storey hanya membutuhkan waktu 8 menit 59 detik.
Seluruh komponen jembatan menggunakan bahan berkualitas terbaik terbuat dari high tensile steel pins yang dibuat dari metal aerospace aluminium–zinc –magnesium alloy sesuai dengan standar NATO. Dalam gelaran MGB, ada beberapa opsi yang digunakan Zeni TNI AD, diantaranya:
1. MGB Single Storey
Ini merupakan MGB dengan satu tingkat, menggunakan satu panel bagian atas (top). Single Storey punya bentang maksimum hingga 9,8 meter. MGB Single Storey dapat menahan beban hingga 70 ton. Jembatan ini dapat dibangun oleh 9 hingga 17 prajurit zeni.
SINGLE_STOREY_MGB
2. MGB Double Storey
Ini merupakan MGB dengan dua tingkat plat, menggunakan top dan bottom panel. Dari segi daya, beban yang bisa ditahan hingga 70 ton. Namun, karena memakai dua panel plat, bentang maksimumnya lebih jauh dari Single Storey, yaitu hingga 31,1 meter. Normalnya MGB Double Storey dapat disiapkan oleh 25 prajurit.
japan2
3. MGB Double Storey with Link Reinforcement Set (LRS)
Serupa dengan MGB Double Storey, namun ditambahkan rangka penguat pada bagian bawah. Karena rancangan dan strukturnya lebih rumit, maka untuk membangun jembatan ini membutuhkan 34 prajurit. MGB Double Storey LRS punya bentang hingga 49,4 meter. Dengan bentang yang lebih panjang dari Single Storey dan Double Storey, kapasitas bebannya melorot jadi 60 ton.
header-mgb-2
TM-5-5420-212-10-1_115_1
1014114_350015231768602_2117538410_n
Aksi prajurit Zipur TNI AD dalam pemasangan MGB.
Dengan spesifikasi diatas, maka tak ada kesulitan bagi MGB untuk dilintasi aneka tank ringan milik TNI AD dan TNI AL. Tapi yang jadi perhatian adalah saat MGB nantinya dilintasi MBT (Main Battle Tank) Leopad 2A4. Dari lebar jembatan yang empat meter, masih dirasa oke. Tapi dari segi daya tahan harus jadi perhatian, MGB Single dan Double Storey masih aman dilintasi Leopard 2A4 yang bobotnya diatas 62 ton. Namun MBT Leopard 2A4 TNI AD rasanya tidak cocok bila harus melintasi MGB Double Storey LRS.
Truk Iveco Yon Zipur 9 Kostrad TNI AD
Truk Iveco Yon Zipur 9 Kostrad TNI AD
IMAG1473
IMAG1463
MGB dapat diangkut melalui air dengan menggunakan Plat bed Truck yang dimobilisasi dengan Ferry Bridge Ponton, dan melalui udara dengan heli angkut berat sekelas Chinooks. Untuk jalur darat, komponen MGB bisa dibawa dengan truk. Yon Zipur 9 Para yang personelnya punya kemampuan Linud (Lintas Udara) dalam Pameran Alutsista TNI AD 2013 turut menampilkan truk pengangkut material MGB, yaitu dari jenis Iveco ADN380T38H. Truk buatan Italia yang dirakit di Spanyol ini punya kapasitas mesin 13.000 cc dengan bobot keseluruhan 38 ton. Untuk memudahkan loading dan unloading material, truk ini juga dilengkapi dengan perangkat crane. (Haryo Adjie Nogo Seno)
Spesifikasi Teknis
Mempunyai daya sanggah yang besar
Mudah dalam perawatan.
Konstruksinya mudah dibongkar dan dipasang
Panjang bentangan : 49,4 meter.
Lebar keseluruhan : 4 meter.
Lebar Deck unit : 2,76 meter.
Berat material : 36,2 ton.
Read more

MAN KAT1 8×8 LEGUAN MLC70: Bridgelayer Jawara Zeni Korps Marinir TNI AL

5 Oktober 1995 jadi momen menarik bagi pemerhati alutsista, selain dikenang sebagai HUT TNI (d/h ABRI) ke-50, peringatan HUT ABRI yang mengambil lokasi di Lanud Halim Perdanakusumah ini juga menyuguhkan parade dan defile peralatan militer yang terbilang besar-besaran di era Orde Baru. Menjadi maskot dalam defile kala itu tank ringan Scorpion, tank APC Stormer dan panser VAB Yon Kav 7/Sersus Kodam Jaya. Tapi bagi penulis, ada sosok lain yang lebih mampu membetot perhatian.
Bukan masuk golongan ranpur, tapi karena dimensinya yang ekstra besar menjadi pemikat rantis yang satu ini. Apalagi rantis berpenggerak 8×8 ini dihadirkan sebagai penutup pada rangkaian defile. Yang dimaksud penulis adalah truk pengangkut jembatan lipat (jembatan taktis darurat) tipe MAN KAT1 8×8 LEGUAN MLC70. Truk dan jembatan lipat buatan Jerman ini begitu membekas di hati, sebab truk ini hampir atau malahan tidak pernah ditampilkan lagi dimuka publik. Pengguna wahana ini adalah Zeni Korps Marinir TNI AL. Dalam struktur organisasi, Batalyon Zeni Marinir berada dibawah Resimen Bantuan Tempur (Banpur). Tidak ada informasi berapa unit yang dimiliki, tapi dalam defile HUT ABRI ke-50, setidaknya ditampilkan dua unit MAN KAT1 8×8 LEGUAN MLC70.
20121022-spr_senior_lcpl_nicholson_golden_egg_mgb_consent_y-u1
Nah, sekarang kita kupas sosok truk Korps Marinir yang jarang tampil ini. Untuk teknologi jembatannya masuk dalam kategori MMB (Military Mobile Bridge). Jembatan lipatnya adalah tipe LEGUAN yang dibuat pabrikan asal Jerman, Krauss-Maffei Wegmann (KMW). Jembatan LEGUAN dirancang untuk dapat dibawa oleh dua platform wahana, yaitu dengan basis tank (tracked vehicle) dan heavy truck (wheeled vehicle). Dengan basis tank, LEGUAN dapat digotong varian tank Leopard 1, Leopard 2, M1A1/A2 ‘Wolverine’ Heavy Assault Bridge (HAB), M60/M47, dan PT91/T72. Sementara dengan basis truk, LEGUAN dibawa truk di kelas penggerak roda 8×8 atau 10×10. Yang di daulat sebagai pembawa di kelas 8×8 adalah truk MAN dari Jerman, dan di kelas 10×10 adalah truk SISU buatan Finlandia.
MAN KAT1 LEGUAN MLC70 milik AD Norwegia.
MAN KAT1 LEGUAN MLC70 milik AD Norwegia.
Man_truck_Leguan_vehicle_launched%2520_launching_bridge_Norwegian_army_Norway_640
Leopard 2A4 AVLB LEGUAN MLC70.
Leopard 2A4 AVLB LEGUAN MLC70.
Khusus bicara wheeled vehicle Bridge Launching, syaratnya harus jelas, bahwa rantis ini mutlak punya kemampuan off road. Malahan untuk truk SISU 10×10, ada tambahan bekal berupya proteksi awaknya dari efek ledakan ranjau, kabin yang mampu menahan proyektil, dan perlindungan awak dari ancaman nuklir, biologi dan kimia.
LEGUAN MLC70 26M
LEGUAN MLC70 26M dapat diartikan bahwa jembatan punya bentang 26 meter dan punya daya tahan hingga bobot 70 ton. Tentu sangat ideal bagi Korps Marinir yang punya satuan kavaleri. Dengan Leguan, laju ranpur amfibi seperti BMP-3F, PT-76, BTR-50, BTR-80A, AMX-10 dan BVP-2 tak bakal menemui kendala bila harus menghadapi medan berceruk dalam. Dengan daya tahan maksimum 70 ton, maka perlengkapan standar NATO ini masih ideal untuk dilalui MBT (Main Battle Tank).
MAN KAT1 LEGUAN MLC70 milik Singapura.
MAN KAT1 LEGUAN MLC70 milik Singapura.
Vehicle_Launched_Bridge
Truk SISU 10x10 LEGUAN MLC70.
Truk SISU 10×10 LEGUAN MLC70.
Secara teknis, LEGUAN MLC70 dengan bobot 10,8 ton dapat digelar penuh dalam waktu kurang dari lima menit. Jembatan terbagi dalam dua bagian, setiap bagian panjangnya 14 meter. Material jembatan terbuat dari campuran aluminum alloy. Moda operasinya dapat ditangani oleh seorang operator secara full otomatis dengan kendali elektronik. Berikut dibawah ini adalah video demonstrasi gelar MAN 8×8 LEGUAN MLC70 oleh AD Norwegia.


Beda dengan TNI AD
Untuk urusan bridgelayer, harus diakui bahwa Korps Marinir TNI AL lebih unggul ketimbang bridgelayer kepunyaan TNI AD. Beda dengan Korps Marinir, TNI AD memasukkan arsenal bridgelayer di dalam satuan kavaleri, tak lain karena menggunakan basis tank, yaitu pada ranpur AMX-13 AVLB, Stormer AVLB, dan yang akan datang ada Leopard 2A4 AVLB. Stormer AVLB punya bentang jembatan 15 meter, sementara Leopard 2A4 AVLB bentangnya 22 meter. Memang keduanya masih kalah bentang dibanding bridgelayer kepunyaan Korps Marinir, tapi perlu dicatat, bridgelayer milik TNI AD kategorinya AVLB (armored vehicle launched bridge), dalam artian sebagai tank pembawa jembatan tentu punya proteksi pada awak lebih baik karena ada elemen lapis baja. Selain Indonesia, MAN KAT1 LEGUAN MLC70 juga dimiliki Belanda, Norwegia, dan Singapura.
Read more

Senin, 08 September 2014

Casspir, Rantis Anti-Ranjau Milik Kopassus

Casspir Kopassus
Sebelum hadirnya rantis anti-ranjau Mamba, satuan gultor Kopassus menggunakan rantis Casspir. Kendaraan yang juga tergolong MPV (Mine Protected Vehicle) itu dibeli pada tahun 2003 dan dikirim pada tahun 2004 sebanyak dua unit, unit bekas AB Afrika Selatan. Casspir merupakan rantis kelas MPV yang legendaris dan terbukti keandalannya di medan perang (battle proven). Dikembangkan CSIR (Council for Scientific and Industrial Research) pada masa perang saudara Afrika Selatan dan Namibia ketika rezim Apartheid berupaya meredam pemberontakan kaum kulit hitam. Produksi awal Casspir Mk1 sebanyak 200 unit dimulai tahun 1979. Produksi Casspir dilanjutkan TFM Limited pada 1981 dengan seri Casspir Mk II. Tidak ada perbedaan berarti Mk I dengan Mk II, hanya palka samping dihilangkan karena dinilai tidak efektif dan penambahan daya mesin serta perubahan axle. Total produksi Casspir Mk I dan Mk II mencapai 2500 unit hingga tahun 1996. TFM diambil oleh Reumech menjadi Reumech OMC pada tahun 1997. Kepemilikan Reumech OMC beralih ke Vickers Defense System Inggris menjadi Vickers OMC pada tahun 1999. Berubah lagi pada tahun 2002 ke Alvis OMC setelah diambil Alvis Inggris dan terakhir pada tahun 2004 diakuisi Bae System menjadi Bae Systems Land System OMC mulai mengembangkan Casspir Mk III. Untuk Casspir Mk IV memakai mesin Cummins BT6 6,7 liter diesel berdaya 220 kW dengan sistem tranmisi Allison 3000. Kini Bae System Land System OMC tengah menawarkan versi lanjut Casspir Mk VI, bobot 14,320 ton, berpenggerak 6×6 dengan kapasitas 16 penumpang berdaya penggerak mesin Ural.
Casspir Mk II
Pada Agustus  1998, AB India memberi kontrak ke Reumech OMC untuk pembelian 90 unit Casspir Mk II 4×4 bekas Afrika Selatan yang direkondisi seharga 140 ribu Dollar per unit. Kendaraan tersebut digunakan pasukan India dalam konflik bersenjata di Jammu dan Kashmir. Namun India memodifikasi Casspir Afrika Selatan dengan mesin penggerak dan sistem transmisi produk lokal agar memudahkan perawatan dan menghemat biaya operasional. Sistem penggerak memakai mesin diesel Tata 697 TC berdaya 157 DK pada 2800 rpm. Mesin dipadu dengan sistem transmisi Tata GBS-50 dengan 5 gigi maju dan 1 gigi mundur. Gardan depan dan belakang juga memakai produk Tata. Untuk pangsa pasar ekspor, Casspir bisa dikustomisasi sistem penggeraknya. Bisa memakai mesin diesel 6 silinder ADE berdaya 170 DK atau mesin Mercedes Benz OM-352A diesel berdaya 166 DK. Demikian juga sistem transmisinya. Sebelumnya dua unit Casspir sudah mengalami evaluasi pengujian sejauh 9 ribu kilometer. Mengalami 4 uji ledakan termasuk satu ranjau anti-tank dan empat bahan peledak rakitan atau IED (Improved Explosive Device) yang sering dijumpai di wilayah Jammu dan Kasmir. Pada tahun 2001 India membeli lagi sebanyak 75 unit Casspir. Dari pengalaman meretrofit Casspir, India merancang kendaraan pengangkut personel anti-ranjau buatan lokal seperti jeep Mahindra kapasitas 6 orang, Ashok Lelyland kapasitas 12 orang, dan Medak’s Ordnance Stallion dengan harga lebih murah.
Casspir Mk VI
Desain khasnya adalah lambung kendaraan yang bererbentuk V yang bertujuan meredam dan memantulkan sebagian daya ledak ranjau. Lambung kendaraan sanggup menahan ledakan dua ranjau anti-tank TM-57 secara beruntun. Jika rodanya menginjak hingga meledak satu buah ranjau anti-tank TM-57 maka perlu waktu kurang dari 2 jam untuk perbaikan di tempat sebelum bisa melanjutkan perjalanan lagi. Jika terkena beberapa ledakan ranjau secara beruntun, perlu 8 hingga 12 jam perbaikan. Bodi lambung monokok dari pelat baja anti peluru yang dilas. Lapisan baja zirah Casspir mampu meredam tembakan peluru senapan kaliber 5,56 dan 7,62 mm NATO juga pecahan proyektil. Dengan spesifikasi khusus bisa dibuat tahan tembakan senapan mesin penembus baja (anti-material) kaliber 7,62 mm. Kaca kendaraan setebal 53 mm tahan terhadap tembakan peluru kaliber 7,62 mm.
Roda Casspir dirancang mampu meredam 3 ledakan beruntun ranjau anti-tank TM-57, setara dengan 21 kg TNT. Sedangkan bawah lambung bisa menahan 2 ledakan beruntun TM-57 atau setara dengan 14 Kg TNT. Kabin awak  memuat 2 orang personel, satu sopir di sebelah kanan dan komandan di sebelah kiri sekaligus mengoperasikan senapan mesin dikubah jika diinstal. Kabin penumpang memuat 10 orang dengan posisi 5 tempat duduk berhadapan. Tiap sisi samping kabin penumpang dilengkapi dengan 6 lubang tembak. Di atap kabin penumpang terdapat 6 buah palka, di atas sopir dan komandan juga terdapat palka dilengkapi dengan sebuah atau sepasang senapan mesin. Personel keluar masuk lewat dua daun pintu di belakang kendaraan yang digerakkan dari ruang kru. Bobot kosong kendaraa berkisar 10 ton hingga 11 ton, kecepatan maksimum 90 km per jam. Dilengkapi tanki air bersih kapasitas 200 liter dan dua buah ban cadangan. Jarak jelajah mencapai 800 km untuk perjalanan sekitar seminggu. Kapasitas tanki bahan bakar 220 liter, bersama mesin dan sistem transmisi ditaruh di dalam bodi kendaraan supaya aman dari ledakan ranjau dan tembakan peluru. Selain konfigurasi angkut personel, Casspir juga bisa dikonfigurasi sebagai ambulan, penembak mortir atau roket anti-tank, tanki bahan bakar, kendaraan servis, dan pembersih ranjau.
Kendaraan angkut personel taktis anti-ranjau 4 WD seperti Casspir memiliki tingkat perlindungan setara panser yang lebih berat dan mahal namun memiliki fleksibilitas yang lebih gesit di medan yang sempit. Harganya pun lebih murah dan manufakturnya lebih mudah dari panser, rasanya cukup layak dikembangkan oleh industri lokal. Tidak cukup jika Indonesia hanya mempunyai dua biji saja.
Read more