Tampilkan postingan dengan label Helikopter TNI. Tampilkan semua postingan

Rabu, 15 Oktober 2014

Helikopter Tempur Mi-35P, Pembabat Tank Milik TNI AD





Dalam sebuah peperangan, helikopter tempur atau helikopter serang berperan untuk membabat berbagai sasaran musuh di darat seperti tank, panser, markas, bunker, maupun iring-iringan tentara infanteri. Tahun 2014 ini TNI AD direncanakan akan mulai menerima AS-550 Fennec, helikopter tempur buatan Eurocopter dan PT. Dirgantara Indonesia. Dan yang paling ditunggu adalah helikopter tempur AH-64D Longbow Apache buatan Boeing, Amerika Serikat yang 4 unit diantaranya akan unjuk gigi di HUT TNI 5 Oktober 2014. Semua heli di atas masih dalam proses, pertanyaannya bagaimana kekuatan heli tempur TNI AD saat ini?
Ternyata, sejak tahun 2010 Pusat Penerbangan TNI AD (Puspenerbad) mengoperasikan heli tempur/serang Mi-35P buatan Rusia. Helikopter Mi-35 ini adalah pengembangan dari helikopter tempur legendaris Mi-24 Hind yang mulai diproduksi di era 1970an. Sedikit berbeda dengan heli tempur buatan Barat yang memisahkan fungsi serang dan serbu, Mi-35P merupakan helikopter serang yang dilengkapi kemampuan angkut pasukan meskipun dalam jumlah terbatas (8 personel infanteri tempur bersenjata lengkap). Sebagai informasi, heli serang adalah heli yang mempunyai peran  menyerang posisi musuh dengan menggunakan senapan mesin, kanon, roket maupun rudal. Contoh heli tempur ini adalah AH-64  Apache dan AS-550 Fennec yang akan dioperasikan oleh TNI AD. Sedangkan heli serbu adalah heli yang berfungsi khusus untuk mengangkut pasukan penyerbu. Jikapun heli serbu dilengkapi senjata, biasanya hanya untuk bela diri ringan seperti senapan mesin 12,7 mm maupun door gun kaliber 7,62 mm. Contoh heli serbu adalah UH-60 Blackhawk, CH-47 Chinook, atau  NAS-332 Super Puma. Dan, heli Mi-35 mengkombinasikan dua kemampuan serbu dan serang tersebut.
Sebagai heli serang, Mi-35P TNI AD dilengkapi dengan roket S-8 kaliber 80mm, pelontar chaff/flare untuk mengecoh rudal yang mengancam dirinya, kanon GSh-30 kaliber 30 mm serta yang paling menakutkan adalah rudal antitank 9M120 Ataka atau AT-9 Spiral dalam kode NATO yang mampu menghajar sasaran seperti tank dan panser musuh dari jarak 8 kilometer serta bersifat fire and forget. Rudal ini memiliki kemampuan sulit di-jamming  sodokan perang elektronika sehingga tingkat perkenaan ke sasaran lawan sangatlah tinggi.
Beberapa spesifikasi teknis Mi-35P TNI AD adalah sebagai berikut :
  • Kru : 2 orang (pilot, perwira senjata)
  • Kapasitas angkut : 8 personel tempur bersenjata lengkap
  • Panjang : 17,5 meter
  • Lebar : 6,5 meter
  • Tinggi : 6,5 meter
  • Diameter rotor utama : 17,3 meter
  • Mesin : 2 buah Isotov  TV3-117 yang masing-masing berdaya 2.200 hp
  • Kecepatan maksimum : 335 kilometer/jam
  • Daya jangkau maksimum : 405 kilometer
  • Ketinggian terbang maksimum : 4.500 meter

Di antara negara ASEAN, tercatat ada 3 negara yang mengoperasikan heli serang  yaitu Thailand dengan helikopter tempur AH-1 Cobra, Singapura dengan AH-64 Apache serta Vietnam dengan Mi-24. Puspenerbad yang saat ini diperkuat 5 heli Mi-35P akan segera ditambah kekuatannya dengan 12 helikopter AS-550 Fennec dan 8 helikopter AH-64D Longbow Apache. Dengan total 25 helikopter serang nantinya, tentunya hal tersebut akan melipatgandakan kekuatan TNI AD dalam menggempur musuh dari udara. Dan dalam konstelasi regional dan internasional, tentu hal ini akan membuat daya tawar Indonesia semakin diperhitungkan.
Read more

Helikopter Eurocopter Tiger H61 TNI AD







Eurocopter Tiger. Prokimal Online Kotabumi Lampung Utara




  TNI memperkenalkan diri kepada warga Indonesia. Macan itu sedang dalam tahap akhir persiapkan fisik di benua Eropa.
Macan itu adalah helikopter serang Eurocopter Tiger H61. Mereka akan melengkapi helikopter serbu MI 35 dan Apache memperkuat TNI AD. Selain itu ada tiga kapal fregat multifungsi untuk TNI AL yang sedang dibangun di Manchester, Inggris. "Seluruh alutsista yang baru ini akan ikut dalam peringatan Hari TNI 5 Oktober," kata Wamenhan Sjafrie Sjamsoeddin di Paris, Jumat (26/6/2014).
Wamenhan berkunjung ke Paris bersama rombongan Komite Kebijakan Industri Pertahanan. Selain itu mereka ke Belanda juga untuk memastikan perkembangan seluruh alutsista yang dipesan Indonesia untuk jajaran TNI. "Saat ini seluruh pesanan itu sudah dalam tahap akhir dan akan segera dikirim secara bertahap ke Indonesia," sambung matan Pangdam Jaya ini.
Sjafrie merasa puas karena selain pembelian alutsista ada banyak tawaran bagi pengembangan kerja sama industri pertahanan. Terutama untuk Pindad yang terbuka peluang bagi pengembangan panser Anoa serta kendaraan tempur dan amunisi lainnya.
Bersama Dirut Pindad Sudirman Said, Wamenhan bertemu juga Presiden Volvo Group, Stefano Chmielewski untuk membicarakan pasokan mesin Renault sebagai sumber tenaga Panser Anoa. "Pindad sudah memproduksi 250 unit panser kebutuhan TNI AD. Sekarang Pindad mempunyai kesempatan untuk memasok 250 unit lainnya dan Renault bersepakat untuk memasok kebutuhan mesinnya," kata Sjafrie
Read more

Jumat, 10 Oktober 2014

Eurocopter, PT DI dan Helikopter TNI

Bulgarian Navy AS 565 MB Panther helicopter (photo:deagel.com)
Bulgarian Navy AS 565 MB Panther helicopter (photo:deagel.com)
Kabar gembira muncul dari TNI AL yang konon mempertimbangkan kembali pembelian Helikopter Seasprite yang dikenal bermasalah dan sempat dikeluhkan oleh Angkatan Laut Selandia Baru.
ARC.web.id:
Impian TNI-AL, Puspenerbal khususnya memiliki helikopter khusus anti kapal selam masih terus bergulir. Kabar baiknya, Kementrian Pertahanan telah mendengar dan meluluskan permintaan tersebut. Lebih jauh, ARC mendapat info, Kemhan sudah memberikan spesifikasi helikopter yang dibutuhkan kepada 2 pabrikan besar produsen heli anti kapal selam. Namun dari pihak pabrikan sendiri belum mengajukan penawaran. Kemhan sendiri berharap, kontrak bisa dilaksanakan tahun ini juga, sehingga di tahun 2014 diharapkan sudah ada barangnya.
Berbeda dengan kabar sebelumnya, dipastikan kali ini heli Kaman Super Sea Sprite sudah masuk kotak. Kementrian pertahanan kini melirik heli AKS yang memang terkenal dan mumpuni. Mereka masing-masing adalah AW-159 Wildcat serta AS-565 Panther. Helikopter AW-159 Wildcat merupakan pengembangan paling mutakhir dari heli Lynx. Sementara heli AS-565 Panther merupakan pengembangan dari seri Dauphin  Eurocopter yang sangat laris.
Dari dua alternatif helikopter tersebut, semoga TNI AL memilih Eurocopter AS565 MB Panther.
Helikopter TNI AD
Dalam kesempatan lain, KSAD Jenderal Moeldoko menyatakan TNI AD akan membeli 12 helikopter tempur buatan Eropa. Jika merujuk kepada pesanan sebelumnya, kemungkinan helikopter yang diburu TNI AD adalah Eurocopter AS 550 Fennec.
Eurocopter AS 550 Fennec Multirole buatan Perancis (Jetphoto.net/Javier González)
Eurocopter AS 550 Fennec Multirole buatan Perancis (Jetphoto.net/Javier González)
Eurocopter
Jika TNI AL memilih Eurocopter AS565 MB Panther, maka rangkaian pengadaan helikopter TNI AL, TNI AD  cocok dengan keinginan TNI AL yang mendatangkan Eurocopter EC725 Super Cougar.
PT DI telah menandatangani kontrak pembuatan 6 Euricopter EC725 pada tahun 2011. Menurut Presiden Direktur PT DI Budi Santoso, kontrak pembuatan 6 Eurocopter EC725 akan mengantarkan industri dirgantara Indonesia ke era baru kerjasama dengan Eurocopter, yang mendorong kemampuan teknologi helikopter PT DI ke tingkat yang lebih tinggi. Sebelumnya sejak tahun 2008, PT DI memang telah memiliki kontrak dengan Eurocopter  untuk perakitan EC255 dan perakitan taiil booms dan airframe dari EC725.
Eurocopter EC 725 Super Cougar (photo: eurocopter)
Eurocopter EC 725 Super Cougar (photo: eurocopter)
Jika TNI AL mengambil AS 565 Panther, TNI AD AS 550 Fennec dan TNI AU EC725 Cougar yang semuanya berbasis eurocopter, tentu biaya pemeliharaan helikopter semakin murah, karena biaya berkala: suku cadang, rebuild engine dan rotor yang mahal, dapat ditekan. Dengan mengerjakan ketiga jenis helikopter eurocopter tersebut, peluang menghidupkan prototype helicopter serang ringan Gandiwa semakin terbuka dan jelas spesifikasinya. (JKGR).
Read more

Dauphin, Helikopter Baru Buatan PT DI

Helikopter AS-365N3+ Dauphin (all photos : Merdeka, Satu Harapan) 

Basarnas Terima 2 Helikopter Dauphin Buatan PT DI

Politikindonesia – Badan Sar Nasional (Basarnas) menerima penyerahan 2 unit helikopter Dauphin AS-365N3+ di apron Lanudal Pondok Cabe, Tangerang Selatan, Selasa (18/02). Helikopter ini diserahkan langsung oleh PT Dirgantara Indonesia (Persero) kepada Basarnas selaku pembeli untuk keperluan SAR (search and rescue). Kontrak pembelian helikopter ini dilakukan tahun 2012 lalu antara PTDI dan Basarnas.

Prosesi penyerahan helikopter dihadiri Direktur Teknologi dan Pengembangan PTDI Andi Alisyahbana, Sekretaris Utama Basarnas Max Ruland B, serta perwakilan Eurocopter, TNI AL, TNI AU dan Kepolisian.

Direktur Teknologi dan Pengembangan PTDI Andi Alisyahbana menjelaskan, helikopter ini merupakan pengembangan bersama antara PTDI dan Eurocopter. PTDI melakukan proses perakitan di Bandung Jawa Barat. Helikopter Dauphin AS-365N3+  dilengkapi dengan peralatan hoist untuk mengevakuasi korban dan radar cuaca untuk mendukung operasi SAR di medan yang sulit.

“Nanti akan ada infrared untuk operasi malam. Heli ini mampu mendukung tugas Basarnas,” kata Andi.

Sementara, Sekretaris Utama Basarnas Max Ruland B menjelaskan, 2 unit helikopter ini, diharapkan mampu meningkatkan peran SAR di Basarnas. Dengan tambahan 2 unit ini, maka Basarnas akan memiliki 8 unit helikopter.

“Ke depan untuk tahun 2014-2015, Basarnas akan mengadakan 2 unit lagi pesawat dengan jenis yang sama. Sehingga kemampuan tindakan awal operasi SAR Basarnas diharapkan akan lebih optimal,” pungkas Max Ruland.

Baca Juga :


Ini Kelebihan Helikopter Dauphin Made in Bandung

Tangerang Selatan -Helikopter Dauphin AS-365N3+ produksi PT Dirgantara Indonesia (PTDI) dan Eurocopter telah dipakai pasukan penjaga pantai Amerika Serikat (AS) atau US Coast Guard. Helikopter ini memiliki beberapa keunggulan daripada helikopter sejenis.

“Ini biasa dipakai US Coast Guard,” kata Direktur Teknologi dan Pengembangan PTDI Andi Alisyahbana usai acara penyerahan heli Dauphin pesanan Basarnas di Lanudal Pondok Cabe Tangerang Selatan,

Dauphin merupakan heli kelas medium dengan bobot 5 ton yang diproduksi bersama PTDI dengan Eurocopter. Helikopter ini dilengkapi alat canggih berupa radar cuaca dan sensor infra merah atau Forward Looking Infrared Camera.

Dengan peralatan canggih tersebut, Heli Dauphin mampu terbang dalam cuaca buruk dan bisa terbang saat malam hari untuk melakukan evakuasi.

“Ini juga dipasang oleh kita. Ada Weather Radar atau radar cuaca. Lalu hoist, alat komunikasi ke kapal juga bisa. Nanti juga akan dipasang namanya forward looking infrared camera. Itu kamera infra merah yang bisa deteksi panas. Kalau malam dia nggak bisa liat manusia tapi tubuh manusia kalau masih ada di air, kan ada panas jadi dia bisa terdeteksi,” jelasnya.

Helikopter Dauphin yang dibandrol seharga US$ 12 juta atau sekitar Rp 120 miliar ini memiliki kemampuan untuk terbang stabil di atas laut atau air saat melakukan evakuasi menggunakan tali atau peralatan hoist (pengerek). Selain itu, helikopter ini dilengkapi dengan roda sehingga bisa berjalan saat mendarat.

“Helikopter (jenis) Bell nggak ada roda. Ini pakai roda. Keuntungan roda. Dia bisa jalan,” jelasnya.
Read more