Tampilkan postingan dengan label Radar. Tampilkan semua postingan

Jumat, 10 Oktober 2014

Ceko Tawarkan Produk Sistem Pertahanan Radar

Ilustrasi Radar
Duta Besar Republik Ceko untuk Indonesia, Thomas Smetanka, mengatakan, pihaknya kini sedang menjajaki kerja sama dengan militer RI terkait teknologi pertahanan berupa radar.
Ceko memang sudah dikenal memiliki catatan yang baik soal teknologi radar, terutama radar pasif ERA Ceko.

Hal itu diungkapkan Smetanka yang ditemui VIVAnews di kediamannya, Menteng, Jakarta Pusat, pada Senin malam, 28 Oktober 2013 dalam perayaan hari jadi ke-95 Republik Ceko. Namun, Smetanka tidak ingin menyebut nilai dari kontrak tertentu terkait kerja sama di bidang pertahanan ini.

"Ada beberapa perusahaan Ceko yang menawarkan teknologi pertahanan kepada militer Indonesia. Salah satu teknologi yang coba dijual yakni radar pasif yang dapat digunakan untuk memantau wilayah udara. Kami juga memiliki radar untuk menara pemantau lalu lintas udara [ATC]," ungkap Smetanka.

Selain teknologi radar, Smetanka melanjutkan, masih ada pula kemungkinan kerja sama pembelian senjata ringan. Namun, Smetanka enggan memaparkan lebih lanjut teknis kerja sama di bidang pertahanan itu.

"Saya tidak dapat memaparkan hal tersebut secara spesifik, karena masih dalam tahap penjajakan," kata dia.

Kerja sama di bidang radar itu dicetuskan saat Presiden Republik Ceko, Vaclav Klaus berkunjung ke Indonesia pada Juli 2012. Terkait hubungan bilateral, Smetanka mengaku kedua negara selama ini bersahabat sangat erat.
Read more

4 Radar Baru Didatangkan TNI AU


https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjjkqDtlkK3nw6ohicQ-5JfpW7VKdtkGoG9JNI6DTHmCTAqon2IZLRkgY23CFliy-_vTSOjw_fAc7TQHGDQSEB9Sgs8v3CL132a9clD496NKAVTSRpY-Xvg7sak102k0jsJelac-XZ6vBt9/s400/Radar.jpgJakarta Indonesia mengalami kekurangan radar untuk pertahanan. Rencananya, sebanyak 4 unit radar baru khusus militer berjenis radar primer bakal didatangkan tahun ini. Hal ini tertuang dalam rencana strategis Kementerian Pertahanan 2009-2014.

Kepala Dinas Penerangan TNI AU Marsma Hadi Tjahjanto menuturkan, hingga kini Indonesia baru memiliki 20 radar yang tersebar di seluruh Indonesia.

"Untuk radar kita sudah tergelar 20 radar dengan jenis Plesey, Thomson dan Master-T," kata pria berkumis itu dalam keterangan tertulis kepada Liputan6.com di Jakarta, Jumat (14/02/2014).

Hadi menuturkan, TNI AU akan membeli radar-radar baru secara bertahap. Diharapkan, radar-radar itu dapat membantu menjaga perbatasan dan wilayah udara tanah air.

"Saya perlu tambahkan radar tambahan renstra 2, Jayapura, Tambolaka, Singkawang, Ploso. Pada renstra 3, Morotai, Ambon, Kendari, Tanjung Pandan, Bengkulu dan Nliyep Malang," tuturnya.

Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro menilai radar khusus militer di Indonesia masih kurang. Untuk menutupi kekurangan tersebut, Kemenhan bekerja sama dengan radar sipil atau radar sekunder.

"Kekurangannya kami hitung sekitar 32-34 unit radar di seluruh Indonesia," ucap Purnomo di Landasan Udara Ranai, Natuna, pada 30 Oktober 2013 silam.

Radar primer atau khusus militer digunakan untuk memantau dan mencatat segala jenis pesawat yang terbang yang menggunakan bahan baku logam. Sedangkan radar sekunder atau sipil digunakan pada penerbangan domestik dan tidak akan bisa memantau pesawat yang mematikan transmiternya.(Ndy/Sss)
Read more

Radar P-18 Penjaga Langit Vietnam


Radar P-18
Militer Vietnam: Saat ini kemampuan perang teknologi tinggi, pengintaian elektronik menjadi peran penting dalam pertahanan tanah air, agar negara tidak terkejut dengan keadaan apapun. Untuk itu tentara mendahulukan investasi perangkat radar dilengkapi dengan alat pengawasan canggih dari kekuatan terkemuka di dunia.
Radar P-18 mampu mendeteksi hingga jarak 250 km di ketinggian 36 km. Radar ini mampu mendeteksi dan tracking 120 target secara bersamaan.

Radar yang dioperasikan Angkatan Udara Vietnam ini bertanggung jawab untuk pendeteksian dini dari semua target udara dan permukaan laut Vietnam.
Radar P-35 (planes) memiliki jangkauan deteksi target 300 km, ketinggian 25 km, dan radar ini mampu mendeteksi target terbang pada ketinggian di bawah 300 meter.

Alarm awal dari radar militer Vietnam ini terkoneksi ke unit yang bersangkutan untuk melawan bila ada dugaan pelanggaran kedaulatan nasional. Selain itu, militer juga akan menentukan jenis senjata apa yang dapat menghancurkan sasaran yang datang di udara, di laut, di darat.

Radar Altimeter PRV-16. Jenis radar pembimbing jet tempur untuk menyerang sasaran yang menyusup di udara.

Radar P-14M, Target jangkauan deteksi 600 km, ketinggian maksimum 65 km.

Radar militer Vietnam didirikan sangat awal pada tanggal 21/03/1958, yakni Resimen radar wilayah Vietnam. Selama perang Vietnam, radar militer yang modern memberikan kontribusi cukup penting untuk melacak sasaran di darat, peluru kendali, anti-pesawat selama kampanye udara yang masive dari USAF.

Radar pengintai Advance 55Zh6UE Nebo-UE. Jenis radar jaringan digital fase 3 dengan desain koordinat secara otomatis mengikuti target.

Radar deteksi khusus pesawat siluman Vostock-E, yang dinamai RV-01. Radar pesawat ini belum ada pesaingnya Asia. RV-01 mampu mendeteksi pesawat siluman F-117A pada jarak 72 km di lingkungan gangguan berat, deteksi pesawat lain berkisar tidak kurang dari 360 km, jumlah target yang bisa dilacak secara bersamaan mencapai 120 target.

Hanoi sedang kampanye untuk mampu berhadapan dengan angkatan udara terkuat di dunia yang memiliki sistem peperangan elektronik yang canggih. Tentara Vietnam masih berjuang membuat radar inovatif “bar untuk menemukan suara spesifik (specific noise) untuk mendeteksi serangan udara besar-besaran.

Sistem pengintaian elektronik Kolchuga pasif. Alat ini adalah sistem radar pasif khusus untuk mendeteksi pesawat siluman canggih yang ada di dunia saat ini.

Radar putar pencari sasaran parameter rendah 39N6 Kasta-2E2 melakukan tugas khusus mendeteksi target terbang rendah seperti rudal jelajah, pesawat tak berawak. Radar ini mampu mendeteksi target terbang pada ketinggian di bawah 100 m pada jarak 41-55 km, tergantung pada ketinggian dari antena, jangkauan maksimum 150 km untuk pengintaian.

Radar penjejak ketinggian 96L6EV dikombinasikan dengan pertahanan udara jarak jauh S-300PMU1, menargetkan deteksi jangkauan 300 km, dan melacak 100 target secara simultan.
Vietnam siap untuk segala perang, termasuk perang elektronika, agar perang itu tidak datang kembali ke Vietnam.
Read more

Senin, 15 September 2014

TNI AU Bangun Satuan Radar Tambolaka, NTT

Markas Besar Tentara Nasional Indonesia berencana membangun sebuah satuan khusus yang mengoperasikan Radar di Pulau Sumba Provinsi Nusa Tenggara Timur pada 2015. Radar merupakan bagian dari sistem pertahanan udara nasional, diletakkan di perbatasan dengan tugas mendeteksi pesawat terbang yang melintas dari dan keluar wilayah negara.
Selama ini Satuan Radar (Satrad) TNI operasionalnya berada di bawah Kohanudnas. Kohanudnas merupakan Komando Utama TNI yang bertugas menyelenggarakan upaya pertahanan keamanan atas wilayah udara nasional secara mandiri ataupun bekerja sama dengan Komando Utama Operasional lainnya, dalam rangka mewujudkan kedaulatan dan keutuhan serta kepentingan lain dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Di sekitar wilayah Sumba, sebenarnya telah terdapat Satrad TNI AU di Pulau Timor yaitu Satrad 226 Buraen, Kecamatan Amarasi, Kupang. Namun seiring dengan tingginya intensitas penerbangan pesawat terbang dari dan ke wilayah selatan (Australia), maka TNI AU perlu pula membangun Satrad baru di Pulau Sumba, khususnya di daerah Tambolaka. Satrad tersebut rencananya akan dibangun pada 2015 mencakup kantor markas, kompleks perumahan dan sarana prasarananya pendukungnya. Diharapkan Satrad tersebut dapat melaksanakan tugas pertahanan udara nasional di wilayah Sumba dan sekitarnya.
Kepala Staf Angkatan Udara (Kasau) Marsekal TNI Ida Bagus Putu Dunia bersama staf terkait untuk merealisasikan pembangunan Satrad di Tambolaka, mengadakan kunjungan ke Kabupaten Sumba Barat Daya, Jumat (12/9). Dengan menggunakan Pesawat Fokker TNI AU, rombongan diterima oleh Bupati Sumba Barat Daya Markus Dairo Talu bersama Muspida di Bandara Tambolaka. Bupati Markus menyampaikan akan siap membantu dan melakukan apapun untuk kepentingan negara, termasuk dalam upaya pertahanan udara nasional dengan pembangunan markas Satrad TNI AU.
Selanjutnya rombongan berganti dengan Helikopter menuju Kahale, lokasi pembangunan Satrad yang disambut Wakil Bupati Sumba Barat Daya Dara Tanggu Kaha dan beberapa anggota DPRD. Dalam peninjauan tersebut Kasau melihat detail teknis perencanaan pembangunan kantor Satrad. Di bagian akhir kunjungan Kasau menyampaikan apresiasinya pada Pemerintah Kabupaten yang peduli pada pertahanan bangsa dengan menghibahkan tanahnya untuk pembangunan Satrad. (tni-au.mil.id)
Read more