Tampilkan postingan dengan label Pesawat Tempur TNI. Tampilkan semua postingan

Jumat, 10 Oktober 2014

Pesawat Angkut C-130 Hercules

pesawat hercules indonesia
Pesawat Hercules

Pesawat C-130 Hercules adalah pesawat angkut militer yang diproduksi oleh perusahaan Lockeed Martin, Amerika. Untuk mendorong tubuhnya yang besar, pesawat angkut berat ini ditenagai dengan empat buah mesin jenis turboprop besutan pabrik mesin pesawat Allison. Pesawat ini sangat laris dipasaran yang terbukti dari banyaknya negara (lebih dari 50 negara) di dunia yang menggunakannya, termasuk Indonesia.
 
Pesawat angkut berat ini terjual laris bukannya tanpa sebab, tapi karena memang banyak kelebihan yang ditawarkan dari burung besi tersebut. Disamping bisa lepas landas dan mendarat pada landasan seadanya pesawat C-130 Hercules juga memiliki ukuran yang sangat besar sehingga memungkinkan mengangkut barang maupun pasukan dalam jumlah besar. Bahkan selain berpartisikpasi dalam tugas militer, pesawat ini juga terlihat populer dalam misi sipil serta bantuan kemanusiaan.
Pesawat C-130 Hercules Milik Indonesia
pesawat c-130 hercules
Pesawat Hercules Juga
Indonesia merupakan sebuah negara kepulauan dengan luas wilayah yang sangat besar sehingga untuk menjaga keutuhan wilayahnya diperlukan dukungan fasilitas untuk pasukan bergerak cepat ke wilayah-wilayah tertentu terutama dalam wilayah yang sedang terlibat konflik. Maka dari itu kehadiran pesawat angkut berat C-130 Hercules sangat membantu misi tersebut.
Pada sekitar tahun di mana terjadi pemberontakan Permesta, Indonesia memperoleh 10 buah pesawat jenis ini dari otoritas Amerika Serikat yang pada waktu itu negara tersebut masih dipimpin oleh John F. Kennedy. Pemberian ini dikabarkan sebagai bentuk pertukaran dengan seorang tawanan anggota CIA (bernama Allen Pope) yang nyata-nyata terlibat aktif berada di pihak Permesta di tahun 1958.
Hingga hari ini Indonesia memiliki sekitar belasan pesawat C-130 Hercules dengan berbagai variannya. Namun dari jumlah yang sekian itu tidak semuanya masih bisa dioperasikan, termasuk ada beberapa yang terlibat kecelakaan sehinga sudah tidak dapat dipakai lagi.  Menjelang tahun 2000 pihak Amerika Serikat pernah me-release larangan menjual senjata ke Indonesia serta membekukan hubungan militer sebagai akibat dari persoalan di Timor-Timur. Larangan ini menjadikan 17 pesawat C-130 Hercules tidak bisa dioperasikan (tidak laik terbang) karena pemboikotan suku cadang.
Ciri Dan Performa Umum
Panjang  keseluruhan   : 97 feets 9 in
Rentang sayap             : 132 feets 7 in
Tinggi keseluruhan       : 38 feets 3 in
Berat bersih (kosong)  : 75.800 lb
MTOW                      : 155.000 lb
Powerplant                  : 4 buah turboprop jenis Allison T56-A-15
Kec. Maksimum          : 592 km/jam pada 20.000 ft
Jarak take off              : 1.093 meter pada berat maksimumnya
Read more

Karakteristik dan Spesifikasi CN-295 PT DI

Dua unit pesawat CN-295 telah diserahkan secara resmi oleh Kemenhan kepada TNI AU, Kamis. 4 Oktober 2012 di Bandara Halim Perdanakusuma. Total 9 CN-295 akan selesai diserahkan kepada TNI AU pada 2014. Pesawat ini digunakan TNI AU untuk mengganti armada Fokker 27 dan sebagai penanda kebangkitan industri dirgantara Indonesia pasca krisis ekonomi tahun 1998.

CN-295 merupakan pesawat pengembangan lebih lanjut dari pesawat CN-235 yang menangguk sukses di pasar internasional sejak diluncurkan tahun 1983, terbanyak digunakan di Turki, 61 pesawat. CN-235 merupakan proyek Casa, pabrikan pesawat Spanyol dan Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) Indonesia (Sekarang PT DI).
CN-295
CN-295
(Foto:Detikcom)

Pesawat CN-295 merupakan pesawat angkut sedang taktis (medium airlifter) generasi terbaru yang sudah menggunakan kokpit full glass, avionik digital dan sepenuhnya kompatibel menggunakan night vision goggles (NVG), sehingga CN-295 merupakan pesawat angkut sedang versi militer yang dapat diandalkan di kelasnya. CN-295 mampu membawa sampai dengan total sembilan ton kargo atau kurang lebih 71 personel.

Pesawat ini juga mampu terbang sampai ketinggian 25 ribu kaki dengan kecepatan jelajah maksium 260 knot (480 km/jam) serta dapat diterbangkan dan dikendalikan dengan aman dan sangat baik pada kecepatan rendah sampai dengan 110 knot (203 km/jam). Dengan menggunakan 2 mesin Turboprop Pratt & Whitney Canada (PW 127G), pesawat ini mampu melaksanakan lepas landas dan melaksanakan pendaratan pada landasan yang pendek (STOL/ Short Take Off & Landing) yaitu 670 m/2.200 kaki dengan berat tertentu.

“Kemampuan Pesawat C-295 M dinilai sangat cocok dan ideal dikaitkan dengan tugas dan misi yang diemban oleh skadron Udara 2,” ujar Komandan Skadron Udara 2 Letkol Pnb Silaen di sela-sela penyerahan pesawat tersebut dalam dalam siaran pers TNI AU, Kamis, 4 Oktober 2012.

Lebih lanjut ia mengatakan bawa kemampuan pesawat ini di antaranya: melaksanakan angkutan personel dan logistik, penerjunan pasukan dan logistik, evakuasi medis udara, patroli udara terbatas, serta penugasan militer maupun misi kemanusian lainnya. Pesawat ini akan ikut beratraksi pada HUT TNI 5 Oktober 2012 hari ini di Halim Perdanakusuma.

CN, adalah singkatan dari Casa Nusantara. Casa yang kependekan Construcciones Aeronauticas SA adalah pabrikan pesawat dari Spanyol, yang sekarang menjadi EADS CASA, cabang dari perusahaan induk dirgantara dan luar angkasa Eropa, European Aeronautic Defence and Space Company N.V (EADS). EADS CASA diakuisisi oleh unit militer Airbus, Airbus Military, tahun 2009.

Nusantara di belakang nama itu menunjukkan identitas bangsa Indonesia, Nusa dan Antara, dalam hal ini IPTN yang kini menjadi PT DI. Pesawat CN 295 ini adalah pesawat buatan PT DI yang berhasil diproduksi pasca krisis ekonomi. 2 Prototipe pesawat setelah CN 235, yakni N 250 dan N 2130, tak berhasil diproduksi karena diterpa krisis ekonomi.
C-295
C-295

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pun mengakui bahwa CN 295 ini menandakan bangkitnya industri dirgantara Indonesia.

"Kiranya hari ini adalah awal tonggak baru kebangkitan PT DI menuju masa depan lebih baik dan sekaligus menandai revitalisasi industri pertahanan kita," kata Presiden saat memberikan sambutan di hadapan ratusan hadirin di hanggar CN 295, kompleks PT DI, Bandung, Jawa Barat.

Sementara itu, staf Humas PT DI Johan Karyansyah mengatakan pesawat angkut militer baru milik TNI AU tersebut merupakan hasil kerjasama PT DI dengan Airbus Military di Spanyol. Selama setahun, PT DI sanggup menyelesaikan tiga pesawat yang mampu menampung hingga 60 personel tersebut.

"Maksimal tiga pesawat setahun. Jadi ini kerjasama masing-masing 50 persen antara PT DI dengan Airbus Spanyol," jelas Johan di Base Ops Lanud Halim Perdanakusuma, Kamis (4/10/2012) kemarin.

Di dunia, pesawat CN 295 atau serinya C 295 ini, sudah digunakan di 13 negara. Pengguna utamanya seperti AU Spanyol, Polandia, Brasil, dan Portugis. Selain itu pesawat ini selain menggantikan Fokker 27 milik TNI AU, juga kandidat menggantikan pesawat DHC-5 Buffalos milik AU Kanada, pesawat Antonov AN-32S milik AU Peru dan de Havilland Canada DHC-4 Caribou milik AU Australia.
Karaktersitik dan Spesifikasi CN-295
Nama
CN-295 / C-295
Jenis
Pesawat angkut sedang taktis
Daya angkut kargo
9 ton
Daya angkut personil
71 personil
Kecepatan jelajah
260 knot (480 km/jam)
Mesin
2 Mesin Turboprop Pratt & Whitney Canada (PW 127G)
Jarak take off
670m
Pengguna (untuk C-295)
13 negara : Spanyol, Polandia, Brazil, Portugis dan beberapa negara lain
Produsen
Joint PT DI & Airbus Military
Read more

Pesawat Jet F-16 Fighting Falcon (Pesawat Tempur Terlaris)

F-16 Fighting Falcon adalah jet tempur multi-peran yang dikembangkan oleh General Dynamics (lalu di akuisisi oleh Lockheed Martin), di Amerika Serikat. Pesawat ini awalnya dirancang sebagai pesawat tempur ringan, dan akhirnya ber-evolusi menjadi pesawat tempur multi-peran yang sangat populer. Kemampuan F-16 untuk bisa dipakai untuk segala macam misi inilah yang membuatnya sangat sukses di pasar ekspor, dan dipakai oleh 24 negara selain Amerika Serikat. Pesawat ini sangat popular di mata international dan telah digunakan oleh 25 angkatan udara. F-16 merupakan proyek pesawat tempur Barat yang paling besar dan signifikan, dengan
sekitar 4000 F-16 sudah di produksi sejak 1976. Pesawat ini sudah tidak diproduksi untuk Angkatan Udara Amerika Serikat, tapi masih diproduksi untuk ekspor.
F-16 dikenal memiliki kemampuan tempur di udara yang sangat baik, dengan inovasi seperti tutup kokpit tanpa bingkai yang memperjelas penglihatan, gagang pengendali samping untuk memudahkan kontrol pada kecepatan tinggi, dan kursi kokpit yang dirancang untuk mengurangi efek g-force pada pilot. Pesawat ini juga merupakan pesawat tempur pertama yang dibuat untu menahan belokan pada percepatan 9g.
Pada tahun 1993, General Dynamics menjual bisnis produksi pesawat mereka kepada Lockheed Corporation, yang kemudian menjadi bagian dari Lockheed Martin setelah merger dengan Martin Marietta pada tahun 1995.

F-16 Fighting Falcon













F-16 pada Perang Irak, Maret 2003.
 TipePesawat tempur
 ProdusenGeneral Dynamics
Lockheed Martin
 Terbang perdana2 Februari 1974
 Diperkenalkan17 Agustus 1978
 StatusAktif
 PenggunaAmerika Serikat
24 negara lainnya
 Jumlah produksiLebih dari 4.000
 Harga satuanUS$18,8 juta (1998)
 VarianGeneral Dynamics F-16XL
Mitsubishi F-2






Sejarah
F-16 Fighting Falcon
Lainnya...

Kemampuan F-16
Pada tahun 1960-an, Angkatan Udara dan Angkatan Laut Amerika Serikat menyimpulkan bahwa masa depan pertempuran udara akan ditentukan oleh peluru kendali yang semakin modern. Dan bahwa pesawat tempur masa depan akan digunakan untuk mengejaran jarak jauh, berkecepatan tinggi, dan menggunakan sistem radar yang sangat kuat untuk mendeteksi musuh dari kejauhan. Ini membuat desain pesawat tempur masa ini lebih seperti interseptor daripada pesawat tempur klasik. Pada saat itu, Amerika Serikat menganggap pesawat F-111 (yang pada saat itu masih dalam tahap pengembangan) dan F-4 Phantom akan cukup untuk kebutuhan pesawat tempur jarak jauh dan menengah, dan didukung oleh pesawat jarak dekat bermesin tunggal seperti F-100 Super Sabre, F-104 Starfighter, dan F-8 Crusader.


United Arab Emirates Air Force F-16E Block 60 taking off after taxiing out of theLockheed Martin plant in Fort Worth, Texas.


Pada Perang Vietnam, Amerika Serikat menyadari bahwa masih banyak kelemahan pada pesawat-pesawat mereka. Peluru kendali udara ke udara pada masa itu masih memiliki banyak masalah, dan pemakaiannya juga dibatasi oleh aturan-aturan tertentu. Selain itu, pertempuran di udara lebih banyak berbentuk pertempuran jarak dekat dimana kelincahan di udara dan senjata jarak dekat sangat diperlukan.
Kolonel John Boyd mengembangkan teori tentang perawatan energi pada pertempuran pesawat tempur, yang bergantung pada sayap yang besar untuk bisa melakukan manuver udara yang baik. Sayap yang lebih besar akan menghasilkan gesekan yang lebih besar saat terbang, dan biasanya menghasilkan jarak jangkau yang lebih sedikit dan kecepatan maksimum yang lebih kecil. Boyd menganggap pengorbanan jarak dan kecepatan perlu untuk menghasilkan pesawat yang bisa bermanuver dengan baik. Pada saat yang sama, pengembangan F-111 menemui banyak masalah, yang mengakibatkan pembatalannya, dan munculnya desain baru, yaitu F-14 Tomcat. Dorongan Boyd tentang pentingnya pesawat yang lincah, gagalnya program F-111, dan munculnya informasi tentang MiG-25 yang saat itu kemampuan dibesar-besarkan membuat Angkatan Udara Amerika Serikat memulai perancangan pesawat mereka sendiri, yang akhirnya menghasilkan F-15 Eagle.



Testing of the F-35 DiverterlessSupersonic Inlet on an F-16 testbed. The original intake is shown in the top image.


Pada saat pengembangannya, F-15 berevolusi menjadi besar dan berat seperti F-111. Ini membuat Boyd frustrasi dan ia pun meyakinkan beberapa petinggi Angkatan Udara lain bahwa F-15 membutuhkan dukungan dari pesawat tempur yang lebih ringan. Grup petinggi Angkatan Udara ini menyebut diri mereka "fighter mafia", dan mereka bersikeras akan dibutuhkannya program Pesawat Tempur Ringan (Light Weight Fighter, LWF).
Pada Mei 1971, Kongres Amerika Serikat mengeluarkan laporan yang mengkritik tajam program F-14 dan F-15. Kongres mengiyakan pendanaan untuk program LWF sebesar US$50 juta, dengan tambahan $12 juta pada tahun berikutnya. Beberapa perusahaan memberikan proposal, tetapi hanya General Dynamics dan Northrop yang sebelumnya sudah memulai perancangan dipilih untuk memproduksi prototip. Pesawat mereka mulai diuji pada tahun 1974. Program LWF awalnya merupakan program evaluasi tanpa direncanakan pembelian versi produksinya, tetapi akhirnya program ini dirubah namanya menjadi Air Combat Fighter, dan Angkatan Udara AS mengumumkan rencana untuk membeli 650 produk ACF. Pada tanggal 13 Januari 1975 diumumkan bahwa YF-16 General Dynamics mengalahkan saingannya, YF-17.


The YF-16 adalah pesawat pertama di dunia yang sengaja dirancang untuk sedikit aerodinamis tidak stabil. Teknik ini, disebut "stabilitas statis santai" (RSS), didirikan untuk lebih meningkatkan kinerja manuver pesawat. Kebanyakan pesawat dirancang dengan stabilitas statis positif, yang mendorong pesawat untuk kembali ke sikap aslinya berikut gangguan. Ini menghambat manuver, sebagai kecenderungan untuk tetap dalam sikap saat ini menentang upaya pilot untuk manuver, di sisi lain, sebuah pesawat dengan stabilitas statis negatif akan, dengan tidak adanya masukan kontrol, mudah menyimpang dari tingkat dan penerbangan dikendalikan. Oleh karena itu, pesawat dengan stabilitas statis negatif akan lebih banyak bermanuver dari satu yang positif stabil. Ketika supersonik, pesawat negatif stabil sebenarnya pameran yang lebih positif-berarah (dan dalam kasus F-16, jaring positif) stabilitas statis karena pergeseran gaya aerodinamika belakang antara penerbangan subsonik dan supersonik. Pada kecepatan subsonik tempur ini terus di ambang keluar dari kendali.



Mechanics actuating an F-16 exhaust nozzle.


Mekanika Penggerak F-16

Turbofany yang pertama dipilih untuk tunggal F-16 bermesin adalah Pratt & Whitney F100-PW-200 turbofan afterburning, sedikit versi modifikasi dari F100-PW-100 yang digunakan oleh F-15. Rated di 23.830 lbf (106,0 kN) dorong, itu tetap F-16 mesin standar melalui Blok 25, kecuali untuk yang baru-membangun 15s Blok dengan Kemampuan Operasional Upgrade (OCU). Para OCU memperkenalkan 23.770 lbf (105,7 kN) F100-PW-220, yang juga diinstal pada Blok 32 dan 42 pesawat, sedangkan tidak menawarkan perbedaan penting di dorong, itu memperkenalkan Digital Electronic Engine Control (DEEC) unit yang diperbaiki keandalan dan mengurangi risiko kios mesin (kecenderungan sesekali tidak disukai dengan yang asli "-200" yang mengharuskan mesin udara restart). Diperkenalkan pada garis-16 F produksi pada tahun 1988, "-220" juga menggantikan F-15's "-100," demikian memaksimalkan kesamaan. Banyak dari "-220" mesin jet pada Blok 25 dan pesawat kemudian ditingkatkan dari pertengahan 1997 sampai standar "-220E", yang selanjutnya meningkatkan keandalan dan maintainability, termasuk pengurangan 35% dari tingkat mesin terjadwal penghapusan.
Pengembangan F100-PW-220/220E merupakan hasil dari Angkatan Udara program Fighter Alternatif Engine (AFE) (bahasa sehari-hari dikenal sebagai "Mesin Perang Besar"), yang juga melihat masuknya General Electric sebagai F-16 penyedia mesin . F110 Its-GE-100 turbofan dibutuhkan modifikasi inlet F-16; inlet asli terbatas dorong maksimum jet GE untuk 25.735 lbf (114,5 kN), sedangkan Modular baru Common Inlet Duct diperbolehkan F110 untuk mencapai dorong maksimum sebesar 28.984 lbf (128,9 kN) di afterburner. (Untuk membedakan antara pesawat dilengkapi dengan dua mesin dan inlet, dari seri 30 Blok pada, blok berakhiran "0" (misalnya, Blok 30) yang didukung oleh GE, dan blok berakhir di "2" (misalnya, Blok 32) dilengkapi dengan mesin Pratt & Whitney.)
Pengembangan lebih lanjut oleh pesaing di bawah upaya Engine Peningkatan Kinerja (IPE) menyebabkan 29.588 lbf (131,6 kN) F110-GE-129 di Blok 50 dan 29.100 lbf (129,4 kN) F100-PW-229 di Blok 52. F-16 mulai terbang dengan mesin ini IPE pada tanggal 22 Oktober 1991 dan 22 Oktober 1992, masing-masing. Secara keseluruhan, dari 1.446 F-16C/Ds diperintahkan oleh USAF, 556 telah dilengkapi dengan mesin F100-seri dan 890 dengan F110s. ] The United Arab Emirates 'Blok 60 ini didukung oleh turbofan General Electric F110-GE-132 , yang dinilai di dorong maksimum 32.500 lbf (144,6 kN), tertinggi yang pernah dikembangkan untuk pesawat F-16



F-16CJ-50C from 20 Fighter Wing (Shaw AFB) armed with air-to-air and SEADordnance


Salah satu fitur yang lebih penting dari sudut pandang pilot adalah sudut pandang yang luar biasa luas, sudut pandang F-16 dari kokpit, sebuah fitur yang sangat penting selama udara-untuk memerangi-udara. Potongan-tunggal, gelembung polycarbonate burung-bukti kanopi menyediakan visibilitas 360 ° semua-bulat, dengan sudut 40 ° melihat-down ke sisi pesawat, dan 15 ° ke bawah hidung (dibandingkan dengan yang lebih umum 12-13 ° dari pendahulunya); kursi pilot dipasang pada jalur tumit tinggi untuk mencapai hal ini. Selanjutnya, kanopi F-16 tidak memiliki frame ke depan busur ditemukan pada sebagian besar pejuang, yang menghambat beberapa visi ke depan pilot. (Panjang pengaturan tandem dua-kursi F-16 membutuhkan bingkai struktural antara para pilot.)


F-16 Ground Trainer Cockpit (F-16 MLU version)




The four-vent cannon port on an F-16A

F-16 kokpit juga memiliki head up display (HUD), yang proyek penerbangan visual dan informasi tempur dalam bentuk simbol dan karakter alfanumerik di depan pilot tanpa menghalangi pandangannya. Mampu menjaga kepalanya "keluar dari kokpit" lebih meningkatkan kesadaran situasional pilot apa yang terjadi di sekitar dia  Boeing Joint Helmet Mounted isyarat System (JHMCS). Juga tersedia dari Blok 40 dan seterusnya untuk digunakan dengan tinggi-off -boresight udara-ke-udara rudal seperti AIM-9X. JHMCS izin cuing sistem senjata ke arah di mana kepala pilot menghadap-bahkan luar lapangan HUD pandang-sambil tetap mempertahankan kesadaran situasional nya JHMCS ini. Pertama operasional digunakan selama Operasi





U.S. Air Force Thunderbirds pilot ejects from his F-16 at an air show in September 2003

Varian

Varian F-16 ditandai oleh nomer blok yang menandakan pembaruan yang signifikan. Blok ini mencakup versi kursi tunggal dan kursi ganda.











F-16 A/B

F-16A Norwegia diatas daerah Balkan.

F-16A Norwegia diatas daerah Balkan.
F-16 A/B awalnya dilengkapi Westinghouse AN/APG-66 Pulse-doppler radar, Pratt & Whitney F100-PW-200 turbofan, dengan 14.670 lbf (64.9 kN), 23.830 lbf (106,0 kN) dengan afterburner. Angkatan Udara AS membeli 674 F-16A dan 121 F-16B, pengiriman selesai pada Maret 1985.
Blok 1
Blok awal (Blok 1/5/10) memiliki relatif sedikit perbedaan. Sebagian besar diperbarui menjadi Blok 10 pada awal 1980-an. Ada 94 Blok 1, 197 Blok 5, dan 312 Blok 10 yang diproduksi. Blok 1 model awal produksi dengan hidung dicat hitam.
Blok 5
Diketahui kemudian bahwa hidung hitam menjadi identifikasi visual jarak jauh untuk pesawat Blok 1, sehingga warnanya diubah menjadi abu-abu untuk Blok 5 ini. Pada F-16 Blok 1, ditemukan bahwa air hujan dapat berkumpul pada beberapa titik di badan pesawat, sehingga untuk Blok 5 dibuat lubang saluran air.
Blok 10
Pada akhir 1970-an, Uni Soviet secara signifikan mengurangi ekspor titanium, sehingga produsen F-16 mulai menggunakan alumunium. Metode baru pun dilakukan: aluminum disekrup ke permukaan pesawat Blok 10, menggantikan cara pengeleman pada pesawat sebelumnya.
Blok 15
Perubahan besar pertama F-16, pesawat Blok 15 ditambahkan stabiliser horizontal yang lebih besar, ditambah dua hardpoint di bagian dagu, radar AN/APG-66 yang lebih baru, dan menambah kapasitas hardpoint bawah sayap. F-16 diberikan radio UHF Have Quick II. Blok 15 adalah varian F-16 yang paling banyak diproduksi, yaitu 983 buah. Produksi terakhir dikirim pada tahun 1996 ke Thailand. Indonesia memiliki varian ini sebanyak 12 unit.
Blok 15 OCU
Mulai tahun 1987 pesawat Blok dikirim ke dengan memenuhi standar Operational Capability Upgrade (OCU), yang mencakup mesin F100-PW-220 turbofans dengan kontrol digital, kemamampuan menembakkan AGM-65, AMRAAM, dan AGM-119 Penguin, serta pembaruan pada kokpit, komputer, dan jalur data. Berat maksimum lepas landasnya bertambah menjadi 17.000 kg. 214 pesawat menerima pembaruan ini, ditambah dengan beberapa pesawat Blok 10.
Blok 20
150 Blok 15 OCU untuk Taiwan dengan tambahan kemampuan yang serupa dengan F-16 C/D Blok 50/52: menembakkan AGM-45 Shrike, AGM-84 Harpoon, AGM-88 HARM, dan bisa membawa LANTIRN. Komputer pada Blok 20 diperbarui secara signifikan, dengan kecepatan proses 740 kali lipat, dan memori 180 kali lipat dari Blok 15 OCU.



Spesifikasi (F-16C Blok 30)



Orthographically projected diagram of the F-16.





Karakteristik umum
Kru: 1
Panjang: 49 ft 5 in (14.8 m)
Lebar sayap: 32 ft 8 in (9.8 m)
Tinggi: 16 ft (4.8 m)
Area sayap: 300 ft² (27.87 m²)
Airfoil: NACA 64A204 root and tip
Berat kosong: 18,238 lb (8,272 kg)
Berat terisi: 26,463 lb (12,003 kg)
Berat maksimum lepas landas: 42,300 lb (16,875 kg)
Mesin: 1× Pratt & Whitney F100-PW-220 afterburning turbofan
Dorongan kering: 14,590 lbf (64.9 kN)
Dorongan dengan afterburner: 23,770 lbf (105.7 kN)
Alternate powerplant: 1× General Electric F110-GE-100 afterburning turbofan
Dry thrust: 17,155 lbf (76.3 kN)
Thrust with afterburner: 28,985 lbf (128.9 kN)
Performa
Kecepatan maksimum: >Mach 2 (1,320 mph, 2,124 km/h) at altitude
Radius tempur: 340 mi (295 nm, 550 km) on a hi-lo-hi mission with six 1,000 lb (450 kg) bombs
Jarak jangkau ferri: >3,200 mi (2,800 nm, 4,800 km)
Batas tertinggi servis: >55,000 ft (15,000 m)
Laju panjat: 50,000 ft/min (260 m/s)
Beban sayap: 88.2 lb/ft² (431 kg/m²)
Dorongan/berat: F100 0.898; F110 1.095
Persenjataan
Senjata api: 1× 20 mm (0.787 in) M61 Vulcan gatling gun, 511 rounds
Roket: 2¾ in (70 mm) CRV7
Rudal:
Air-to-air missiles:
6× AIM-9 Sidewinder or
6× AIM-120 AMRAAM or
6× Python-4
Air-to-ground missiles:
6× AGM-65 Maverick or
4× AGM-88 HARM
Anti-ship missiles: 4× AGM-119 Penguin
Bom:
2× CBU-87 cluster
2× CBU-89 gator mine
2× CBU-97
4× GBU-10 Paveway
6× GBU-12 Paveway II
6× Paveway-series laser-guided bombs
4× JDAM
4× Mk 80 series
B61 nuclear bomb
Lainya:
SUU-42A/A Flares/Infrared decoys dispenser pod and chaff pod or
AN/ALQ-131 & AN/ALQ-184 ECM pods or
LANTIRN, Lockheed Martin Sniper XR & LITENING targeting pods or
up to 3× 300/330/370 US gallon Sargent Fletcher drop tanks for ferry flight/extended range/loitering time.
Avionik
AN/APG-68 radar
Read more

Pesawat Jet Tempur T-50 Golden Eagle

Kita Pasti sering berfikir, dengan semua kapasitas dan teknologi yang dimiliki, kenapa sampai sekarang Indonesia belum dapat membuat Jet tempur sendiri? Akhirnya PT Dirgantara Indonesia (PTDI) yang berkerja sama dengan Korea Selatan telah siap mengerjakan proyek pengembangan model pesawat tempur T-50 Golden Eagle senilai US$8 miliar.
Dari sumber berita yang beredar saat ini, Direktur Integrasi Pesawat PT DI Budiwuraskito mengemukakan sejumlah sarana dan prasarana yang dimiliki badan usaha milik negara (BUMN) tersebut mampu mengerjakan pesawat tempur sejenis T-50 Golden Eagle yang merupakan pengembangan pesawat oleh Korea Selatan-Amerika Serikat. “Kalau memroduksi sendiri [pesawat tempur] belum bisa, tetapi kalau bergabung dengan Korea Selatan bisa terlaksana,” katanya.
PT DI memiliki pengalaman dalam bidang kualifikasi dan sertifikasi dalam memproduksi pesawat-pesawat terbaik yang berkecepatan rendah seperti CN-235. Sementara itu, Korea Selatan berpengalaman dalam memroduksi pesawat berkecepatan tinggi atau melebihi kecepatan suara (1 mach) T-50 Golden Eagle. “PT DI memiliki lahan, laboratorium, ruang perakitan, sumber daya manusia, dan lain-lain. Jadi sebetulnya tinggal penggabungan teknologi saja,” katanya.

Budi mengatakan pengembangan dan pembangunan model pesawat yang ditawarkan Korea Selatan baru untuk jenis tempur (fighter), sementara pengembangan model pesawat jenis lainnya seperti jenis stealth (siluman), belum masuk program.

Dia menilai kerja sama pengembangan pesawat tempur kemungkinan bisa diwujudkan pada tahun ini setelah pemerintah Korea Selatan memberikan lampu hijau atas program kerja sama. “Pemerintah Korea Selatan tinggal menunggu persetujuan parlemennya dalam program pengembangan pesawat ini,” katanya.

Di bidang penguasaan teknologi pesawat terbang, Indonesia telah terkenal sebagai satu-satunya negara di Asia Tenggara yang memproduksi dan mengembangkan pesawat sendiri. Walaupun di bidang pemasaran produksi pesawatnya sendiri harus kita akui cuma masih kalah dalam mengembangkan dan memasarkannya ke seluruh dunia.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiNIWNaePf0245mgw5vMjyRrD4fodx-R6kdSblB1XYf254EzlHDhWVmiWm4B-RZ55lt9OazoSGXvPJEubhEjoLgtr3junQohM3zXgcCzBIcWmNgHakUtFWesUi_W6Z8oANswjb21evNbZU/s1600/T-50-Golden-Eagle-Prokimal-Online.jpg 
Akan tetapi, beberapa tahun belakangan ini, beberapa negara mulai mengalihkan perhatiannya ke pesawat buatan Indonesia, sebut saja Malaysia, Pakistan, UAE, Philipina, dan Korea Utara, serta beberapa negara lainnya. CN-235 tampaknya akan mendapatkan pangsa pasar yang lebih luas di beberapa tahun kedepan setelah lebih banyak negara yang sadar akan kehandalannya. Malaysia sendiri berencana memesan 4 pesawat tambahan untuk menambah jumlah pesawat CN-235 yang sudah mereka miliki.
 spesifikasi T- 50 Golden Eagle:
http://img1.beritasatu.com/data/media/images/medium/1392262492.jpg Karakteristik umum
* Kru: 2
* Panjang: 42 ft 7 in (12.98 m)
* Lebar sayap: 30 ft 1 in (9.17 m)
* Tinggi: 15 ft 8.25 in (4.78 m)
* Berat kosong: 14,200 lb (6,441 kg)
* Berat maksimum lepas landas: 26,400 lb (11,985 kg)
* Mesin: 1× General Electric F404 afterburning turbofan
o Dorongan kering: 11,925 lbf (53.07 kN)
o Dorongan dengan afterburner: 17,775 lbf (79.1 kN)

Performa

* Kecepatan maksimum: Mach 1.4
* Jarak jangkau: 1,150 mi ()
* Batas tertinggi servis: 48,000 ft (14,630 m)

Persenjataan

* Guns: 1× M61A1 Vulcan 20 mm Gatling gun
* Rockets: LAU-3/68
* Missiles:
o Air-to-air: 2× AIM-9 Sidewinder
o Air-to-ground: 6× AGM-65 Maverick
* Bombs: 5× CBU-58 cluster, 9× Mk 82, 3× Mk 83/MK 84, and 9× Mk 20. LM
Read more

Super Tucano, Pesawat Tempur Ringan Kontra-Gerilya

Embraer EMB-314 Super Tucano (www.airforce-technology.com)
Konflik asimetris dan kontra-gerilya ternyata masih menjadi bagian dalam peperangan modearn baik negara superpower maupun Indonesia. Sejak 1975, AU Indonesia memanfaatkan pesawat turbo-prop buatan pabrikan AS, North American Rockwell, OV-10F Bronco dalam fungsi anti-gerilya atau COIN (Counter-Insurgency). Pesawat tempur turbo-prop tersebut banyak berperan dalam kancah perang Vietnam baik sebagai light ground attack, observasi, dan FAC (Forward Air Controller). Namun perannya dalam perang Vietnam dengan cepat segera digantikan pesawat turbo-jet serang darat atau CAS (Close Air Support) A-4 Skyhawk, A-6 Intruder, dan A-7 Corsair II. Survivability pesawat turbo-prop yang jelek dalam perang Vietnam di tengah lahirnya generasi baru senjata anti-pesawat jenis panggul (MANPADS) SA-7 Strela dan kehadiran situs-situs SAM. Namun dengan berakhirnya perang Vietnam, OV-10 Bronco masih banyak dipakai negara-negara berkembang seperti Venezuela, Thailand, Filipina, dan Indonesia untuk menghadapi perlawanan gerilya dalam konflik internal. Seiring semakin uzurnya usia-pakai mainframe pesawat, akhirnya Bronco resmi di-grounded dan masuk museum. Selesai sudah peran pesawat tempur turbo-prop legendaris ini yang banyak berkiprah di Indonesia dalam konflik Timor-Timur (Timor Leste) dan Aceh.
Peranan sebuah pesawat turbo-prop dengan fungsi serang ringan sebagai pesawat COIN dirasa masih sangat diperlukan oleh negara-negara berkembang. Meski peran pesawat ini sudah dihapus oleh negara maju seperti NATO dan Rusia yang mengalihkan ke jenis pesawat turbojet dan turbofan.Korps Marinir AS terakhir memakai  Bronco tahun 1995, Indonesia meng-grounded Bronco pada 2007. Akhirnya pada akhir tahun 2010 pemerintah Indonesia memutuskan mengorder satu skuadron penuh 16 unit pesawat tempur ringan turboprop dari pabrikan Brasil, Embraer dengan tipe EMB-314 Super Tucano. Pesawat memiliki 5 hardpoint di sayap dan fuselage, kokpit modern dilengkapi glass-cockpit display, mesin 1 unit Pratt & Whitney PT6A-68C berdaya 1600 HP, pengindera malam AN/AAQ-22 Safire. Daya mesin super tucano memang terbesar di kelasnya, mampu membawa amunisi berbagai kaliber dan beberapa jenis misil.  Super Tucano melejit namanya setelah menuai sukses di tangan AU Kolombia yang berhasil menewaskan Raul Reyes, orang kedua dalam organisasi pemberontak FARC dalam suatu serangan udara lintas perbatasan Operasi Phoenix pada 2008. Aksi ini mendapat respon protes keras pemerintah Venezuela. Super Tucano dan seri sebelumnya sudah dioperasikan sejumlah AU Amerika Latin seperti Brazil, Kolombia, Peru, Ekuador, dan Chile. Venezuela sendiri berminat mengorder Super Tucano tapi diblokir oleh pemerintah AS. Memang pesawat ini banyak memiliki kandungan suku cadang buatan pabrikan AS sehingga Venezuela mengalihkannya ke pembelian heli serang buatan Rusia Mi-28N Havoc, sebuah heli serang pengembangan dari Mi-24/35.
Pergeseran paradigma di lapangan saat ini mulai mengikis keraguan AS terhadap peran pesawat tempur ringan turbo-prop. Semenjak pabrikan OV-10 berhenti produksi, praktis AS tidak memiliki pabrik yang memproduksi pesawat turbo-prop COIN. Militer AS menitikberatkan operasi COIN pada serangan  udara CAS dari pesawat turbojet dan turbofan serta UAV yang ditopang superioritas piranti IRS (Inteligence, Reconnaisance, Surveillance) dengan pergerakan pasukan darat yang dibantu pasukan lokal. Doktrin tersebut meniscayakan kehadiran pasukan dalam jumlah besar untuk menduduki sebuah wilayah perlawanan dalam jangka panjang. Menurut doktrin resmi USMC, seharusnya personel pasukan darat yang diturunkan untuk meredam perlawanan gerilya di Irak sebanyak lebih dari lima ratus ribu serdadu. Strategi itu telah diterapkan di Irak dan Afghanistan pasca Operasi Iraqi Freedom dan Operasi Enduring Freedom. Konsekuensi dari taktik yang dijalankan menimbulkan lonjakan pemakaian pesawat jet konvensional multirole seperti F-16 Falcon, F-15E Strike Eagle, F/A-18, dan pesawat serang darat A-10C Thunderbolt II di luar perkiraan normal. Sebab pesawat tempur tersebut harus lebih sering berpatroli untuk bisa memberikan bantuan serangan udara dengan cepat terhadap unit pasukan di darat saat dipanggil. Penyiapan pesawat oleh awak darat pun tergolong rumit untuk penanganan sebuah pesawat jet tempur di pangkalan. Di tengah melambatnya ekonomi nasional, pemerintah AS menghemat perencanan pengadaan pesawat jet tempur konvensional. Bahkan A-10 sendiri telah berhenti line produksinya. Muncul kekhawatir di dalam meroketnya konsumsi lifetime airframe pesawat jet tersebut tanpa diimbangi rencana pengadaan yang memadai untuk menggantikannya di masa datang maka akan lahir bottleneck.
Super Tucano dalam evaluasi AL AS (www.defensenews.com)
Di samping itu operasional dalam tempo tinggi membengkakkan biaya bahan bakar dan perawatan pesawat tempur, padahal misi penyerangan tempurnya tidak bertambah secara signifikan. Karakteristik pesawat jet tempur bertolak belakang dengan pesawat tempur turboprop. Pesawat baling-baling sangat hemat bahan bakar dan berdurasi terbang yang lebih lama meski dikompensasikan dengan daya angkut senjata yang terbatas. Karakter kecepatan dan ketinggian terbang pesawat yang rendah sesuai untuk pengamatan dari udara terhadap aktivitas gerilya atau penyelundupan. Penggelarannya pun bisa dilakukan di dekat titik-titik pengerahan pasukan darat yang tengah menggelar operasi kontra-gerilya yang berlandasan pacu sederhana. Pelayanan pesawat di pangkalan aju jauh lebih ringkas dibanding pesawat jet tempur. Pergeseran paradigma dan strategi COIN militer AS pada tahun 2009 melahirkan rencana AU memproduksi dan memakai kembali pesawat tempur ringan turboprop dalam program Light Attack and Armed Reconnaisance (LAAR) disertai pengadaan pesawat angkut ringan (light lift aircraft).
Purwarupa Hawker Beechcraft AT-6B Texan II (www.airforce-magazine.com)
Pada mulanya progam LAAR menargetkan 100 unit orderan pesawat dengan konsep “wing peperangan ireguler” (Irregular Warfare Wings). Pada 2010 AU AS merevisi menjadi 15 unit orderan saja dengan mengubah konsep menjadi “membangun kemampuan kerjasama” (Building Partnership Capacity). Proyek pengadaan LAAR mendorong pabrikan AS mendesain ulang pesawat-pesawat tempur turboprop yang pernah populer dari era Perang Dunia II hingga Perang Vietnam. Pabrikan Piper mendesain ulang P-51 Mustang menjadi PA-48 Enfocer. Pabrikan Boeing merilis konsep OV-10 Bronco menjadi OV-10X. Pabrikan Air Tractor memodifikasi pesawat pertanian dengan sejumlah persenjataan berupa pesawat AT-802U. Legenda perang Vietnam A-1 Skyraider dirancang kembali menjadi A-67 Dragon. Hawker Beechcraft memodifikasi pesawat latih T-6A Texan II menjadi AT-6B. Pabrikan Embraer Brasil menawarkan Super Tucano untuk pangsa AS yakni A-29 Super Tucano. Bahkan pabrikan Italia Alenia dengan percaya diri menawarkan jet latihnya Aermacchi M-346. Dari informasi  above the line, persaingan program LAAR mengerucut ke dua model yaitu A-29 Super Tucano dan AT-6B Texan II. Keduanya dalam pengujian oleh AU maupun AL.
Analisis penulis memprediksikan AT-6B Texan II yang akan muncul sebagai pemenang. Meskipun Super Tucano sendiri telah battle proven dan dipakai sejumlah AU negara Amerika Latin. Bahkan Embraer menjalin kerjasama dengan pabrikan lokal Sierra Nevada untuk produksi A-29 di Jacksonville, Florida. Akan tetapi dengan memilih AT-6B akan lebih menyederhakan jalur suplai dan dukungan.   AT-6B dirancang dengan bekerjasama pabrikan Lockheed dengan sistem misi avionik turunan dari A-10C Thunderbolt II, pesawat khusus CAS (Close Air Support) AU AS bermesin turbofan. Pesawat AT-6B dikembangkan berbasis pesawat T-6A Texan II produksi Hawker Beechcraft. T-6A adalah pesawat turboprop latih dasar yang dipakai AU dan AL AS, telah dioperasikan sebanyak 250 unit. T-6A merupakan pesawat latih dasar turunan dari PC-9 Pilatus Swiss untuk pangsa pasar AS.  Sebuah kebijakan pemerintah AS mewajibkan produsen alutsista impor untuk bekerjasama dan membangun basis produksi dengan perusahaan lokal. Dengan demikian kandungan lokal menjadi tinggi mengingat basis industri dirgantara AS sangat kuat dan menggerakkan sektor bisnis dalam negeri (multiple effects).
Kargo Ringan Cessna 208B Caravan (www.flightglobal.com)
Program LAAR seiring dengan rencana pengadaan pesawat angkut ringan yang bisa mendukung operasi COIN. Pada bulan Mei 2011, AU AS memutuskan pabrikan Cessna sebagai pemenang dengan produk unggulannya Cessna T-128T dan Cessna 208B Caravan. Total sebanyak 32 unit pesawat yang diorder dengan nilai 88,5 juta Dollar. Cessna menyingkirkan pesaingnya beratnya seperti Pacific Aerospace P-750 dari Selandia Baru dan EADS North Amerika C-212. Kalo EADS yang menang, PT. Dirgantara Indonesia bisa ikut kecipratan rezeki buat ikut jualan onderdil karena produksi C-212 Aviocar dari Airbus sendiri sudah diserahkan ke PT. DI. Pesawat angkut ringan tersebut akan dikirim ke Afganistan, mungkin juga Irak. Dalam kedua proyek COIN tersebut pemerintah AS menghindarkan diri dari keterlibatan langsung. Proyek diselenggarakan untuk menciptakan pelatihan pesawat tempur ringan COIN. Tugasnya melatih negara-negara mitra mengoperasikan pesawat ringan kontra-gerilya. Mencegah resiko korban personel AS yang berpotensi makin menjatuhkan dukungan publik dalam negeri terhadap operasi militer AS di luar negeri. Namun masih ada kemungkinan perubahan kebijakan pemerintah AS dalam penggelaran pesawat ini di kemudian hari.
Pesawat tempur serang ringan turboprop memiliki kecepatan di bawah 300 knot, sangat rendah dibanding pesawat jet. Justru di sini letak kelebihan sekaligus kelemahannya meski sudah dilengkapi dengan sistem pertahanan diri. Pesawat AT-6B Texan II memiliki dispenser pengelak ALE-47 yang bisa melontarkan flare. Piranti sensor AN/AAR-47 bisa mendeteksi pancaran pemandu IR dan laser dari rudal anti-pesawat namun minus RWR (Radar Warning Receiver) sehingga tidak bisa mendeteksi rudal anti-pesawat yang dipandu radar. Karena kecepatan terbang yang terlalu rendah, efektivitas pemakaian flare terhadap misil menjadi meragukan.  Ruangan kokpit dilapis dengan keramik ataupun paduan titanium sehingga awak pesawat aman terhadap tembakan senjata api ringan. Namun pesawat tetap rentan terhadap semua tembakan meriam anti-pesawat kaliber kecil sekalipun. Saat ini semua meriam anti-pesawat sangat efektif melawan pesawat tempur yang terbang rendah karena dioperasikan memakai radar. Data perang Indochina yang melibatkan AS menunjukkan kehilangan pesawat tempur turbo-prop adalah lima kali lipat dari pesawat tempur jet. Jadi penggelaran pesawat tempur serang ringan turbo-prop sangat bergantung iklim palagan, mengijinkan atau tidak. Peranannya tidak menggantikan jet tempur melainkan saling melengkapi. Pesawat jet tempur beroperasi terlebih dahulu dengan sasaran hard target situs-situs SAM baik yang permanen maupun portable serta kendaraan lapis baja biasanya juga dilengkapi senjata AA (Anti-Aircraft).
Dalam Irregular Warfare, biasanya ancaman ini sudah tidak ada atau sudah dieliminir. Tinggal soft target saja yang bisa memiliki senapan serbu dan recoilless weapon seperti rudal panggul dan granat berpelontar roket. Kombinasi umum yang dipakai gerilyawan saat ini dalam perlawanan bersenjata. Penggunaan senjata tersebut harusnya bisa diminimalkan oleh unit di darat karena pesawat COIN tidak bekerja sendiri. Memerlukan data IRS dan peranan pasukan di bawah, sebagai supporting attack sekaligus pengamatan udara terhadap pergerakan mereka. Memang harus diakui strategi perang kontra-gerilya tidak melulu pada masalah pertempuran namun sangat erat dengan kebijakan luar negeri, penyelesaian masalah ekonomi dan politik, serta dukungan dari dari penduduk dan pemerintah negara-negara sekitar.

Latihan team JTAC (www.airforce-magazine.com)
Dalam kondisi damai, pesawat serang ringan turbo-prop bisa dimanfaatkan juga sebagai pesawat latih terbang dan pelatihan personel serangan gabungan. Sangat menghemat biaya dibanding sepenuhnya memakai pesawat jet dalam pelatihan dukungan serangan udara jarak dekat bagi unit pasukan darat yang sedang bertempur (Joint Terminal Attack Controller). Disamping hemat bahan bakar dan durasi terbang yang lebih lama, usia pakai airframe pesawat turbo-prop jauh lebih panjang, berkisar 12 ribu hingga 18 ribu jam terbang. Bandingkan dengan pesawat jet tempur yang berkisar 6 ribu jam.
Pemilihan jenis pesawat serang turbo-prop kontra-gerilya dewasa ini sangat bergantung pada kebijakan pemerintah masing-masing. Pada prinsipnya kinerja dan kekuatan pesawat-pesawat tersebut tidak jauh berbeda antara produsen yang satu dengan yang lainnya. Tinggal kelebihan apa yang paling sesuai dengan kondisi palagan dan dukungan industri lokal.
Super Tucano (EMB-314) merupakan pesawat latih berkemampuan COIN (Counter Insurgency) atau pesawat antigerilya buatan Embraer Defense System, Brasilia. Pesawat ini merupakan tempur kategori serbu ringan yang telah dipesan oleh Indonesia dari Brazil. Pemesanan ini dilakukan pada Tahun 2010, dimana ada satu skuadron (16 Pesawat) telah dipesan untuk Indonesia. Super Tucano ini direncanakan sebagai pengganti pesawat COIN milik TNI AU yang telah di grounded yaitu OV-10 Bronco.



Penggantian ini sudah sangat mendesak mengingat pesawat OV-10 Bronco yang telah banyak berjasa bagi Indonesia telah dinyatakan Grounded sejak tahun 2007. Sehingga proses penggantian ini mau tidak mau harus di percepat untuk mempertahankan kemampuan pilot dan para teknisi lainnya, disamping tujuan utama untuk memperkuat TNI AU untuk menghadapi banyak tantangan di masa depan.


Apa Keunggulan dari Super Tucano?


Indonesia telah menjautuhkan pilihan kepada Super Tucano sebagai pesawat COIN di TNI AU. Tentunya TNI AU sebagai End User memiliki banyak pertimbangan sehingga memilih pesawat ini dibandingkan yang lain. Super Tucano ini di proyeksikan sebagai pesawat anti Grillia dimana yang dihadapi seperti gerakan separatis, pembalakan liar, dan juga penyelundupan narkoba. Seandainya di Indonesia terjadi lagi kekacauan seperti separatis, dan sejenisnya maka Super Tucano yang akan turun tangan.


Lalu kenapa untuk kekacauan seperti itu harus Super Tucano yang turun tangan?? Kenapa bukan pesawat tempur lain yang jauh lebih canggih dan menggetarkan seperti F-16 maupun Sukhoi TNI AU?? Alasannya sangatlah jelas, karena untuk menghadapi pasukan separatis, yang berada di dalam hutan-hutan, tentu dibutuhkan pesawat yang memiliki kemampuan untuk terbang rendah dan dengan kecepatan rendah pula. Selain itu, dibutuhkan juga pesawat yang mampu terbang selama berjam-jam tanpa harus kembali kepangkalan untuk mengisi bahan bakar. Disinilah peranan dari Super Tucano ini, karena pesawat ini memiliki semua kemampuan itu.


Seandainya pesawat Sukhoi atau F-16 yang diturunkan untuk menghadapi gerilawan, pesawat-pesawat ini akan menghadapi kesulitan untuk terbang rendah dan kecepatan rendah untuk mencari sasaran serta menghancurkannya. Selain itu, kedua jenis pesawat ini juga tidak bisa terbang dalam waktu yang lebih lama dari Super Tucano karena keduanya memerlukan bahan bakar yang sangat banyak per jam terbangnya. Selain itu juga, menggunakan Sukhoi atau F-16 hanya untuk menghancurkan geriliawan sepertinya sangat Over Killing.


Peranan Super Tucano di TNI AU


Seperti yang sudah saya jelaskan sebelumnya bahwa Super Tucano akan digunakan untuk mengahdapi geriliawan dan pembalakan liar serta sejenisnya. Kita mengingat kembali ketika terjadi perselisihan di Aceh dimana Separatis sedang melakukan kekacauan di Aceh, TNI AU mengerahkan Pesawat COIN yaitu OV-10 Bronco yang digunakan sebagai bantuan dan support terhadap tentara Indonesia di darat untuk menyerang posisi separaits. Nah peranan inilah nantinya akan terus dimainkan oleh Super Tucano.


Lalu mungkin sebagian dari kita bertanya, bukankah perselisihan di Aceh sudah selesai?? Ya benar bahwa sudah selesai, namun yang menjadi pertimbangan adalah diseluruh Indonesia masih mungkin untuk terjadi kejadian serupa di masa mendatang. Selain itu, di perbatasan seperti di Kalimantan dan Papua, sering sekali Negara tetangga melanggar kedaulatan Indonesia. Nah disini juga Super Tucano mengambil peranan sebagai pesawat patroli untuk mengamankan kedaulatan Negara Indonesia. Penggunaan Super Tucano sebagai pesawat patrol perbatasan akan lebih murah di banding dengan menggunakan Sukhoi ataupun F-16.


Apakah Super Tucano Rawan Embargo?


Kata embargo terasa seperti sebuah pil pahit yang pernah di alami militer Indonesia. Tahun 1999 sampai dengan 2005, Militer Indonesia di embargo oleh Amerika dan sekutunya sehingga menyebabkan alutsista TNI mengalami penurunan kualitas. Bahkan Inggris pernah melarang Indonesia menggunakan pesawat Hwak-209/109 (di beli Indonesia dari Inggris ) melawan pasukan separatis di Aceh. Sungguh suatu bentuk tindakan yang tidak mengenakkan bagi Indonesia.


Dari kejadian itulah, Indonesia banyak belajar. Seperti kata pepatah, Hanya Keledai yang akan jatuh 2 kali dilubang yang sama. Maka dari itu, TNI AU mencari produsen pesawat yang tidak akan membatasi Indonesia dalam menggunakan alutsistanya. Pilihan Super Tucano dari Brazil merupakan pilihan tepat untuk mengatasi masalah Embargo ini. Seperti kita ketahui bahwa Brazil tidak memiliki perselisihan apapun dengan Indonesia, dan sebagai Negara yang sama-sama sedang berkembang, Brazil dan Indonesia akan saling menghormati satu dengan yang lainnya.


Memang benar bahwa sebagian komponen dan senjata dari pesawat Super Tucano ini masih merupakan produk Negara barat yang pernah mengembargo Indonesia, tetapi peluang embargo ini akan semakin mengecil. Untuk itu, patutlah kita menyokong TNI AU sebagai pengguna Super Tucano untuk menjaga kedaulatan NKRI.

Referensi:
  1. http://www.flightglobal.com
  2. http://www.thinkdefence.co.uk
  3. http://www.airforce-magazine.com
  4. http://www.airforce-technology.com
  5. http://www.embraerdefencesystems.com
  6. http://www.wikipedia.org
  7. http://www.defensenews.com
  8. Maj. USAF Steven J. Tittel, Cost Capability and The Hunt for A Lightweight Ground Attack Aircraft, Fort Leavenworth, 2009
  9. Francis Crosby, Modern Fighter Aircraft, Anness Publishing, 2004
  10. Laur and Llanso, Encyclopedia of Modern US Weapons, Berkeley Publishing, 1998
Read more

Selasa, 09 September 2014

Indonesia Jajaki UH-60 Black Hawk dan Eurocopter AS565 Sebagai Tandem Apache


https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh5uOwpoJUC8lg7yzaH9v6wxshqz02RjjW2klM7d6Ae7AUDJ-hMVQgDZ-XVEuEAL7STSiM-eVkdtK7bPxQi__gVEiIHJY5E7hpG5gh0R1XZADsKuydN9SwdCEhE6HFz7ROnPKdXfsCz_A/s1600/TNI+AD+Inginkan+Helikopter+Black+Hawk+dan+Chinook+Ch-47.JPGMenteri Pertahanan, Purnomo Yusgiantoro, mengatakan pemerintah berencana membangun pangkalan helikopter tempur di pulau Natuna, Kepulauan Riau. Menurut Purnomo, rencana itu merupakan upaya mempertebal kekuatan militer Indonesia di wilayah yang berbatasan dengan Laut China Selatan.

"Rencananya kami akan letakkan satu skuadron (16) unit helikopter tempur di Natuna," kata Purnomo kepada wartawan di kompleks DPR, Selasa, 9 September 2014.

Menurut dia, skuadron tersebut akan diisi oleh beberapa jenis helikopter. Salah satunya adalah helikopter AH-64D Apache yang dibeli dari Amerika Serikat. Saat ini Indonesia sedang menanti kedatangan delapan unit Apache dari negeri Paman Sam tersebut.

Karena masih kurang delapan unit helikopter lagi untuk bisa membentuk satu skuadron, Purnomo mengaku masih mencari jenis helikopter yang cocok. Menurut dia, ada kemungkinan helikopter Sikorsky UH-60 Black Hawk dan Eurocopter AS565 Panther akan dipilih sebagai tandem Apache. "Tapi nanti kami masih pikirkan itu," kata dia.

Sayangnya, Purnomo belum bisa memastikan kapan rencana tersebut bakal terealisasi. Terlebih sebentar lagi masa pemerintahan Kabinet Indonesia Bersatu II segera berakhir.

Menurut dia, sudah sewajarnya pemerintah mengamankan wilayah yang berbatasan dengan Laut China Selatan. Sebab situasi perairan ini mulai memanas pasca beberapa negara, seperti Vietnam, Tiongkok, Filipina, dan Malaysia, mengklaim wilayah laut itu sebagai wilayah masing-masing sehingga terjadi tumpang tindih.

Pulau Natuna, dia melanjutkan, sangat strategis untuk menjadi lokasi pendirian markas helikopter tempur. Sebab kawasan di Natuna kaya sumber daya alam, dan ikan. Tragisnya, terjadi banyak pemancingan ikan ilegal yang dilakukan nelayan asing di perairan tersebut."

Jadi sekalian untuk mengamankan itu semua," kata dia. "Selain Natuna, Morotai juga jadi pilihan strategis sebab potensi ikan tuna sangat besar."
Read more

Senin, 08 September 2014

TNI AU inginkan Sukhoi Su-35 Pengganti F-5 Tiger

TNI AU menginginkan pesawat tempur Su-35 sebagai pengganti F-5 Tiger. Dan menurut Panglima TNI Jenderal Moeldoko , keputusan yang tepat bagi pemerintah jika membeli pesawat Sukhoi SU-35.  Saat ini TNI AU memiliki satu skuadron atau 16 unit pesawat campuran Sukhoi SU-27 dan SU-30 yang bermarkas di pangkalan udara Sultan Hasanuddin, Makassar.


Sukhoi SU-35 merupakan pesawat tempur generasi 4,5, atau lebih canggih dari SU-27 dan SU-30. Kemampuan Pesawat tempur ini benar-benar mengagumkan, ini terbukti dari ucapan Kepala Air Combat Commad Amerika Serikat, Jenderal Hal Hornburg yang mengatakan pesawat Rusia itu telah membuktikan lebih baik dalam manuver dan pendeteksian, sehingga memiliki kemampuan untuk menghantam sasaran lebih dulu. Kondisi ini menjadi “a wake-up call” bagi U.S. Air Force.
Read more