Tampilkan postingan dengan label Pesawat Angkut. Tampilkan semua postingan

Jumat, 10 Oktober 2014

Airbus A400M, Pesawat Angkut Militer Taktis Buatan Airbus Military


Airbus A400M (Foto 1)




Airbus A400M atau yang juga dikenal dengan nama Atlas, adalah pesawat angkut militer bermesin turboprop yang yang pengembangannya melibatkan kerjasama beberapa negara. Oleh perusahaan Airbus Military, pesawat terbang ini dirancang sebagai pesawat angkut militer taktis dengan kemampuan strategis. Penerbangan perdana Airbus A400M awalnya direncanakan pada tahun 2008, namun baru bisa dilaksanakan pada tanggal 11 Desember 2009 di Seville, Spanyol.

Hingga Juli 2011, terhitung sudah 174 unit A400M yang dipesan oleh 8 negara. Perusahaan Airbus Military memperkirakan dapat mulai mengirimkan pesanan tersebut setidaknya pada awal 2013.

Airbus A400M dikembangkan dibawah proyek Future International Militer Airlifter (FIMA) yang didirikan pada tahun 1982 oleh Aérospatiale, British Aerospace (BAe), Lockheed, dan Messerschmitt-Bölkow-Blohm (MBB). Pesawat yang mereka rancang saat itu adalah sebagai pengganti pesawat C-130 Hercules dan Transall C-160. Disebabkan begitu banyakya persyaratan yang diajukan dan juga perkembangan politik internasional, usaha perancangan pesawat baru ini mengalami kelambatan. Bahkan pada tahun 1989, pihak Lockheed mengundurkan diri dari proyek dan selanjutnya perusahaan AS tersebut lebih memilih untuk mengembangkan pesawat Hercules-nya menjadi C-130J Super Hercules. Namun keluarnya Lockheed dari proyek digantikan oleh Alenia dari Italia dan CASA dari Spanyol yang menjadi semua negara anggota proyek FIMA adalah dari benua Eropa.

Dilihat dari ukurannya, A400M berada diantara pesawat Lockheed C-130 dan Boeing C-17. Pada awalnya mesin turboprop SNECMA M138 yang dipilih sebagai tenaga penggerak pesawat A400M ini. Namun akibat campur tangan politis, setelah menyingkirkan beberapa jenis pilihan mesin lainnya, akhirnya pada Mei 2003 dipilih mesin Europrop TP400-D6.

Airbus Kirimkan Pesawat Angkut A400M ke Prancis
Pada bulan Mei 2003 itu juga negara-negara mitra yang terdiri dari Perancis, Jerman, Italia, Spanyol, Inggris, Turki, Belgia, dan Belanda, menandatangani perjanjian pembelian 212 unit pesawat yang baru dalam tahap perancangan ini. Namun jumlah tersebut berkurang menjadi 180 unit setelah Italia menarik lagi rencana pembeliannya. Selanjutnya pada 28 April 2005, negara Afrika Selatan bergabung sebagai mitra pada proyek ini dan salah satu industri dirgantaranya, Denel Saab Aerostructures, menerima kontrak pengadaan komponen pesawat A400M.

Perakitan A400M di pabrik Seville dari EADS Spanyol dimulai pada kuartal pertama tahun 2007. Airbus berencana untuk memproduksi tiga puluh pesawat per tahun. Empat mesin Europrop TP400-D6 dikirim pada akhir Februari 2008 untuk pesawat A400M pertama. Pengujian struktural statis dari badan pesawat uji A400M dimulai pada tanggal 12 Maret 2008 di Spanyol.

Pesawat A400M ini ditampilkan secara resmi pada sebuah acara yang dipimpin oleh Raja Juan Carlos I di Seville, 26 Juli 2008. Dan beberapa waktu kemudian, tepatnya pada tanggal 12 Januari 2011, produk pesanan pelanggan pertama mulai dibangun.


Menurut data dari situs Wikipedia, calon pengguna yang menjadi pemesan produk pesawat angkut militer Airbus A400M ini adalah Jerman (53 unit), Perancis (50 unit), Spanyol (27 unit), Inggris (20 unit), Turki (10 unit), dan Belanda (1 unit). Satu-satunya negara Asia Tenggara yang telah memastikan bakal menjadi pengguna Airbus A400M adalah Malaysia yang pada 8 Desember 2005 tercatat memesan 4 unit. Indonesia juga disebut-sebut sebagai negara yang berpotensi menjadi pembeli sehingga tidak heran jika pihak Airbus Military juga menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara rute penerbangan promosi produk Airbus A400M ini. Dijadwalkan pada tanggal 18 April 2012 pesawat angkut militer taktis ini dipamerkan di Halim Perdanakusuma.

Spesifikasi Pesawat Terbang Airbus A400M

Karakteristik Umum
  • Crew : 3 atau 4 orang
  • Kapasitas Angkut : 37.000 kg
  • Panjang : 45,1 meter
  • Bentang Sayap : 42,4 meter
  • Tinggi : 14,7 meter
  • Berat Kosong : 76.500 kg
  • Berat Maksimum Lepas-Landas : 141.000 kg
  • Kapasitas Bahan Bakar : 50.500 kg
  • Berat Maksimum Pendaratan : 122.000 kg
  • Mesin Penggerak : 4 unit Europrop TP400-D6 turboprop, masing-masing dengan daya 8.250 kW (11.060 hp)
  • Propeller : 8 bilah dengan diameter 5,3 meter
Kinerja
  • Kecepatan Jelajah : 780 km/jam (480 mph; 420kn, Mach 0.68-0.72)
  • Jarak Jagkau : 3.298 km dengan maksimum kargo
    • Jangkauan dengan kargo 30 ton : 4.540 km
    • Jangkauan dengan kargo 20 ton : 6.390 km
  • Jarak Jagkau Terjauh : 8.710 km
  • Batas Maksimum Tertinggi Penerbangan : 11.300 meter
Read more

Pesawat Angkut C-130 Hercules

pesawat hercules indonesia
Pesawat Hercules

Pesawat C-130 Hercules adalah pesawat angkut militer yang diproduksi oleh perusahaan Lockeed Martin, Amerika. Untuk mendorong tubuhnya yang besar, pesawat angkut berat ini ditenagai dengan empat buah mesin jenis turboprop besutan pabrik mesin pesawat Allison. Pesawat ini sangat laris dipasaran yang terbukti dari banyaknya negara (lebih dari 50 negara) di dunia yang menggunakannya, termasuk Indonesia.
 
Pesawat angkut berat ini terjual laris bukannya tanpa sebab, tapi karena memang banyak kelebihan yang ditawarkan dari burung besi tersebut. Disamping bisa lepas landas dan mendarat pada landasan seadanya pesawat C-130 Hercules juga memiliki ukuran yang sangat besar sehingga memungkinkan mengangkut barang maupun pasukan dalam jumlah besar. Bahkan selain berpartisikpasi dalam tugas militer, pesawat ini juga terlihat populer dalam misi sipil serta bantuan kemanusiaan.
Pesawat C-130 Hercules Milik Indonesia
pesawat c-130 hercules
Pesawat Hercules Juga
Indonesia merupakan sebuah negara kepulauan dengan luas wilayah yang sangat besar sehingga untuk menjaga keutuhan wilayahnya diperlukan dukungan fasilitas untuk pasukan bergerak cepat ke wilayah-wilayah tertentu terutama dalam wilayah yang sedang terlibat konflik. Maka dari itu kehadiran pesawat angkut berat C-130 Hercules sangat membantu misi tersebut.
Pada sekitar tahun di mana terjadi pemberontakan Permesta, Indonesia memperoleh 10 buah pesawat jenis ini dari otoritas Amerika Serikat yang pada waktu itu negara tersebut masih dipimpin oleh John F. Kennedy. Pemberian ini dikabarkan sebagai bentuk pertukaran dengan seorang tawanan anggota CIA (bernama Allen Pope) yang nyata-nyata terlibat aktif berada di pihak Permesta di tahun 1958.
Hingga hari ini Indonesia memiliki sekitar belasan pesawat C-130 Hercules dengan berbagai variannya. Namun dari jumlah yang sekian itu tidak semuanya masih bisa dioperasikan, termasuk ada beberapa yang terlibat kecelakaan sehinga sudah tidak dapat dipakai lagi.  Menjelang tahun 2000 pihak Amerika Serikat pernah me-release larangan menjual senjata ke Indonesia serta membekukan hubungan militer sebagai akibat dari persoalan di Timor-Timur. Larangan ini menjadikan 17 pesawat C-130 Hercules tidak bisa dioperasikan (tidak laik terbang) karena pemboikotan suku cadang.
Ciri Dan Performa Umum
Panjang  keseluruhan   : 97 feets 9 in
Rentang sayap             : 132 feets 7 in
Tinggi keseluruhan       : 38 feets 3 in
Berat bersih (kosong)  : 75.800 lb
MTOW                      : 155.000 lb
Powerplant                  : 4 buah turboprop jenis Allison T56-A-15
Kec. Maksimum          : 592 km/jam pada 20.000 ft
Jarak take off              : 1.093 meter pada berat maksimumnya
Read more

Karakteristik dan Spesifikasi CN-295 PT DI

Dua unit pesawat CN-295 telah diserahkan secara resmi oleh Kemenhan kepada TNI AU, Kamis. 4 Oktober 2012 di Bandara Halim Perdanakusuma. Total 9 CN-295 akan selesai diserahkan kepada TNI AU pada 2014. Pesawat ini digunakan TNI AU untuk mengganti armada Fokker 27 dan sebagai penanda kebangkitan industri dirgantara Indonesia pasca krisis ekonomi tahun 1998.

CN-295 merupakan pesawat pengembangan lebih lanjut dari pesawat CN-235 yang menangguk sukses di pasar internasional sejak diluncurkan tahun 1983, terbanyak digunakan di Turki, 61 pesawat. CN-235 merupakan proyek Casa, pabrikan pesawat Spanyol dan Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) Indonesia (Sekarang PT DI).
CN-295
CN-295
(Foto:Detikcom)

Pesawat CN-295 merupakan pesawat angkut sedang taktis (medium airlifter) generasi terbaru yang sudah menggunakan kokpit full glass, avionik digital dan sepenuhnya kompatibel menggunakan night vision goggles (NVG), sehingga CN-295 merupakan pesawat angkut sedang versi militer yang dapat diandalkan di kelasnya. CN-295 mampu membawa sampai dengan total sembilan ton kargo atau kurang lebih 71 personel.

Pesawat ini juga mampu terbang sampai ketinggian 25 ribu kaki dengan kecepatan jelajah maksium 260 knot (480 km/jam) serta dapat diterbangkan dan dikendalikan dengan aman dan sangat baik pada kecepatan rendah sampai dengan 110 knot (203 km/jam). Dengan menggunakan 2 mesin Turboprop Pratt & Whitney Canada (PW 127G), pesawat ini mampu melaksanakan lepas landas dan melaksanakan pendaratan pada landasan yang pendek (STOL/ Short Take Off & Landing) yaitu 670 m/2.200 kaki dengan berat tertentu.

“Kemampuan Pesawat C-295 M dinilai sangat cocok dan ideal dikaitkan dengan tugas dan misi yang diemban oleh skadron Udara 2,” ujar Komandan Skadron Udara 2 Letkol Pnb Silaen di sela-sela penyerahan pesawat tersebut dalam dalam siaran pers TNI AU, Kamis, 4 Oktober 2012.

Lebih lanjut ia mengatakan bawa kemampuan pesawat ini di antaranya: melaksanakan angkutan personel dan logistik, penerjunan pasukan dan logistik, evakuasi medis udara, patroli udara terbatas, serta penugasan militer maupun misi kemanusian lainnya. Pesawat ini akan ikut beratraksi pada HUT TNI 5 Oktober 2012 hari ini di Halim Perdanakusuma.

CN, adalah singkatan dari Casa Nusantara. Casa yang kependekan Construcciones Aeronauticas SA adalah pabrikan pesawat dari Spanyol, yang sekarang menjadi EADS CASA, cabang dari perusahaan induk dirgantara dan luar angkasa Eropa, European Aeronautic Defence and Space Company N.V (EADS). EADS CASA diakuisisi oleh unit militer Airbus, Airbus Military, tahun 2009.

Nusantara di belakang nama itu menunjukkan identitas bangsa Indonesia, Nusa dan Antara, dalam hal ini IPTN yang kini menjadi PT DI. Pesawat CN 295 ini adalah pesawat buatan PT DI yang berhasil diproduksi pasca krisis ekonomi. 2 Prototipe pesawat setelah CN 235, yakni N 250 dan N 2130, tak berhasil diproduksi karena diterpa krisis ekonomi.
C-295
C-295

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pun mengakui bahwa CN 295 ini menandakan bangkitnya industri dirgantara Indonesia.

"Kiranya hari ini adalah awal tonggak baru kebangkitan PT DI menuju masa depan lebih baik dan sekaligus menandai revitalisasi industri pertahanan kita," kata Presiden saat memberikan sambutan di hadapan ratusan hadirin di hanggar CN 295, kompleks PT DI, Bandung, Jawa Barat.

Sementara itu, staf Humas PT DI Johan Karyansyah mengatakan pesawat angkut militer baru milik TNI AU tersebut merupakan hasil kerjasama PT DI dengan Airbus Military di Spanyol. Selama setahun, PT DI sanggup menyelesaikan tiga pesawat yang mampu menampung hingga 60 personel tersebut.

"Maksimal tiga pesawat setahun. Jadi ini kerjasama masing-masing 50 persen antara PT DI dengan Airbus Spanyol," jelas Johan di Base Ops Lanud Halim Perdanakusuma, Kamis (4/10/2012) kemarin.

Di dunia, pesawat CN 295 atau serinya C 295 ini, sudah digunakan di 13 negara. Pengguna utamanya seperti AU Spanyol, Polandia, Brasil, dan Portugis. Selain itu pesawat ini selain menggantikan Fokker 27 milik TNI AU, juga kandidat menggantikan pesawat DHC-5 Buffalos milik AU Kanada, pesawat Antonov AN-32S milik AU Peru dan de Havilland Canada DHC-4 Caribou milik AU Australia.
Karaktersitik dan Spesifikasi CN-295
Nama
CN-295 / C-295
Jenis
Pesawat angkut sedang taktis
Daya angkut kargo
9 ton
Daya angkut personil
71 personil
Kecepatan jelajah
260 knot (480 km/jam)
Mesin
2 Mesin Turboprop Pratt & Whitney Canada (PW 127G)
Jarak take off
670m
Pengguna (untuk C-295)
13 negara : Spanyol, Polandia, Brazil, Portugis dan beberapa negara lain
Produsen
Joint PT DI & Airbus Military
Read more